Dampak Pilkada

Blog ini bukan mau membahas pihak yang menang dan pihak yang kalah yaaa….catet! Saya cuma mau ngeluarin uneg uneg pribadi saya seputar dampak dari Pilkada kemarin.

Sebagai muslim yang bertempat tinggal di wilayah Kelapa Gading-yang notabene adalah minoritas-kini saya tidak lagi memiliki perasaan nyaman bila menggunakan jilbab panjang.

Fyi, saya belum berbusana syar’i, masih berjilbab biasa, namun saya memiliki beberapa jilbab syar’i (kerudung yang ukurannya lebih panjang sehingga menutupi seluruh badan sampai paha). Jilbab model ini biasanya saya pakai kalau hanya pergi di sekitar rumah, dan malas memakai pakaian lengan panjang. 

Sebelumnya saya santai banget pakai jilbab model ini, namun paska pilkada-entah pikiran saya yang parnonya lebay-saya kok ya merasa identitas seperti ini akan mengundang penilaian berbeda dari orang orang di lingkungan sekitar.

Bukan rahasia  umum kalau jilbab panjang menimbulkan kesan kalau pemakainya adalah orang yang fanatik, baik dilihat dari sesama muslim atau non muslim. Sejauh ini sih Alhamdulillah saya belum pernah mengalami hal yang ngga enak terkait penampilan saya, namun perasaan tidak nyaman kini muncul.

Saya menikah dan belum memiliki anak. Tapi saya kok ya khawatir kalau nanti anak saya dibesarkan di negara yang masyarakatnya intoleran. Sebagai orangtua, saya ingin bila kelak memiliki anak, kehidupan mereka harus lebih baik dari kami. Baik itu pendidikan, taraf hidup, kesehatan, pengalaman dan lainnya.

Salah satu hal yang tidak kesampaian di hidup saya yaitu merasakan tinggal/sekolah di luar negeri. Nah kebayang kalau anak saya hanya punya pengalaman bergaul dengan orang yang agamanya sama. Pasti berat sekali hidup sebagai minoritas di negeri orang. 

Untuk itu saya berpikir, anak saya harus mengalami menjadi minoritas dalam hidupnya. Bahkan kalau perlu dia akan saya masukkan di sekolah agama non Islam, untuk merasakan keberagaman kita sebagai mahluk sosial, yang tinggal di negara dimana ada agama lain yang diakui selain Islam.

Ya, berbeda dari saya yang terlahir dari orangtua beda agama, anak saya harus dikondisikan agar rasa toleransinya tumbuh.

Dampak lain yang saya khawatirkan adalah, bila golongan lain pun akan memilih sesamanya juga dalam berbagai hal. Misal, seorang Tiongkok hanya akan memilih sesamanya saat merekrut pegawai. Kristen hanya mau membantu sesamanya yang sedang kesulitan, dst.

Berkaitan dengan adanya kesenjangan kesempatan bagi golongan minoritas pun, akan mungkin terjadi bila orang yang sebetulnya berpotensi, namun memilih untuk pergi ke luar negeri karena menganggap negara tidak akan memberinya peluang.

Dan sampai kapan pun niscaya Indonesia akan tetap menjadi negara berkembang.

Sedih ya?

Advertisements