Jepang Takajuik* Moment

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition“>

Beberapa tahun lalu, saya dan beberapa teman kuliah (berlima & cewek semua) berkesempatan untuk reuni sekaligus liburan ke Jepang.

Me & squad

Ini hal yang ngga pernah terpikirkan sama sekali oleh kita. Dulu, jaman kuliah yang di dompet cuma ada duit 5000 perak istilahnya, mana kebayang bisa pergi liburan bareng, apalagi ke Jepang (yang mitosnya salah satu negara mahal). Bahkan reuni sekaligus liburan ini terjadi setelah 11 tahun kita lulus kuliah, iya kami setua itu πŸ˜‚.
Setelah beberapa kali ketemuan untuk booking pesawat, hotel, dan membahas itinerary, kami sepakat untuk pergi wisata ke Jepang akhir Februari 2012. Tadinya sih kita ingin menikmati Jepang di musim semi, apalagi menurut salah satu teman, banyak festival seru yang diadakan saat itu. Tapi apa daya, tiket Promo Air Asia kami hanya berlaku di saat masih musim dingin.

Winter in Japan

Walaupun perjalanan kami lumayan melelahkan, karena harus transit 4 jam di KL, tapi wisata kali ini -surprisingly- membuat saya langsung menjadikan Jepang sebagai negara favorit di Asia. Inilah yang saya sebut Jepang Takajuik Moment. Ingin tahu mengapa Jepang begitu menakjubkan? Berikut alasannya,
1. Visa yang Mudah & Cepat.

Bahkan sebelum saya tiba pun, saya sudah merasakan betapa orang Jepang sangat menghargai turis yang akan mengunjungi negaranya. Hal ini terlihat dari efisiensi mereka dalam pengurusan Visa. Semua proses dipermudah, cepat, dan jelas. Jadi jangan ragu untuk datang dan mengurus Visa Jepang sendiri.

2. Jepang Ternyata Tidak Semahal ITU.

– Penginapan

Kami menginap didaerah Osaka (Hostel Chuo) & Tokyo (Hotel Sakura) yang nyaman,strategis dengan harga terjangkau (Ratenya saat itu hampir sama dengan harga kamar Hotel menengah di Bali). Bahkan di Osaka, kamar kami berupa kamar tradisional khas Jepang yang dilengkapi dengan kimono & tatami. Sungguh pengalaman yang unik dan berkesan!

Tipe Kamar Dormitori di Hostel Chuo

Ruang makan dimana kita bisa ngobrol sama sesama turis mancanegara

Mencoba kearifan lokal ala Jepang

Foto di dinding Hotel. Tebak kita yg mana?

– Transportasi

Walaupun Jepang transportasinya dikenal mahal, namun banyak alternatif yang bisa dipilih untuk menghemat budget. Contohnya, untuk perjalanan antar kota. Daripada menggunakan Shinkasen yang mahal, kami memilih menggunakan Bus Malam Willer dalam perjalanan Osaka – Tokyo – Osaka yang tarifnya hanya separuh dari Shinkansen. Dengan Bus Willer pula, kita dapat berhemat biaya Hotel karena perjalanan berlangsung semalaman. Apalagi Bus ini sangat nyaman dengan re-clining seat & penutup kepala. Bahkan ketika larut malam lampu dimatikan dan Bus melaju kencang, saya sempat mengira kalau sedang berada di dalam pesawat hehe.

Pulang pergi dapet Bus yang interiornya semua pink. Gemes!

Ini bukan di-creambath. Tapi ada Head Cover buat penumpang Bis

– Makanan

Ini yang paling bikin saya takjub. Biasanya bila sedang liburan di negeri orang, saya seringkali kangen masakan Indonesia. Tapi tidak di Jepang, karena kuliner mereka betul betul beragam, menggoda karena memanjakan mata, enak, segar, sehat dengan harga yang terjangkau. Bahkan di convenience store seperti 7-11 atau Lawson yang sepertinya tiap lima langkah ada, makanannya sangat menggugah selera. Untuk makanan berat, kami sering makan di Yoshinoya yang harganya mirip dengan Foodcourt di Jakarta. Namun dengan porsi yang lebih besar dan rasanya lebih enak.

Yoshinoya Japan

Bento & roti di convenience store

Seafood @ Tsukiji Market

Jajanan Jepang

Sushi!

Yang haus yang haus…

– Belanja
Jepang termasuk destinasi surga belanja buat orang Indonesia. Bagaimana tidak? Barang dari yang murah sampai mahal tersedia disana. Banyak fashion merk lokal Jepang yang keren & murah. Belum lagi toko semacam Daisho yang menjual pernak pernik lucu & perlengkapan rumah tangga dengan satu harga.

3. Kebaikan & Keramahan Warga Jepang

Jadi gini ya, biarpun kita datang ke negara yang keindahan alamnya luar biasa tapi warganya tidak bersahabat, apa kita betah? Nah Jepang adalah negara yang unik menurut saya. Walaupun orangnya sangat modern (berjalan cepat, penggemar barang bermerk), tapi masih menjunjung tinggi budaya dan adat ketimuran. Saya sangat terkesan akan kebaikan Orang Jepang dalam membantu sesama, dan beruntung selama disana saya beberapa kali mendapat pengalaman soal ini. Dimulai dari waktu kita tiba di Osaka saat tengah malam yang dingin, dan harus berjalan kaki mencari Hostel. Kita didatangi seorang pemuda Jepang yang langsung menawarkan diri untuk mengantar ke tempat tujuan. Pemuda ini kuliah di universitas Amerika lho, tapi dalam kepulangannya ke Jepang masih mau mengantar turis. Dan selanjutnya, sering kali kita diantar orang Jepang ke tempat tujuan, walaupun awalnya kita hanya menanyakan arah. Padahal jaraknya lumayan jauh dari tempat kita bertanya, apalagi sempat ada seorang bapak yang mengantar kita sudah mengenakan seragam kerjanya. Lucunya, pernah saya bertanya petunjuk arah menuju hotel ke seorang siswi sekolah. Setelah dia mengecek ponselnya, lalu menjelaskan arah yang harus dituju. Karena ragu dengan petunjuk dari dia, saya bertanya lagi ke seorang polisi, dan menemukan hotel yang saya tuju. Ngga jauh dari hotel, tiba tiba siswi tadi menyusul saya! Sambil minta maaf kalau petunjuknya salah, dan mengantar saya hampir ke hotel. Terharuuuu. 

Kebaikan dalam hal lain sempat dialami seorang kawan saya. Saat memilih oleh oleh di toko suvenir, dia tidak sengaja memecahkan beberapa barang. Setelah dia minta maaf dan bersedia mengganti barang yang pecah, si pemilik toko ternyata tidak mau. Dia hanya mengijinkan teman saya membayar seharga barang yang dibelinya saja. Ish, ini orang Jepang pada makan apa sik, kok bisa baik bener jadi manusia? 

Thanks for your help & hospitality 😍😘

Nah, karena saat ini saya sudah menikah. Ingin sekali suatu saat saya bisa kembali liburan ke Jepang bersama suami. Kalau kami nantinya berniat untuk berpetualang berdua, langkah awal tentunya kami harus mencari tiket penerbangan murah ke Jepang & akomodasi lainnya, yang pastinya tinggal diklik disini HAnavi.
Tapi karena kita berdua sadar kalau ngga pinter bikin itinerary, namun tetap ingin jadwal dan aktivitas selama di Jepang bisa teroganisir dengan baik. Kemungkinan kita akan memilih Paket Tour Jepang sebagai teman perjalanan dalam wisata ke Jepang berikutnya.

Doakan ya semoga tahun ini saya dan suami bisa menikmati Sakura di Jepang bersama His Travel Indonesia , dan pulang membawa bayi ‘made in Japan’, yang gedenya nanti bisa menuntut ilmu di Jepang 😝. Aamiin!

Takajuik* = Terkejut dalam Bahasa Minang

Advertisements

Trip Purwokerto 2017

Awal bulan di 2017 dibuka dengan liburan domestik, yeay!

Jadi ceritanya, salah satu tim kerja kami menikah di daerah Banjarnegara. Awalnya sih kita ngga pengen dateng, karena jauh. Tapi nih anak ngarep banget kita hadir, ya sudahlah. Yuk packing!

Berhubung Banjarnegara kota kecil dan belum ada hotel yang nyaman, akhirnya kita cari daerah sekitarnya untuk transit. Kita butuh hotel nyaman karena masih parno pernah nginep di hotel kecil daerah lembang yg spooky, apalagi trip kali ini ngajak ortu yg kebetulan ada di Jakarta & bulan ini merayakan Ulang Tahun Pernikahan (hadiahnya jalan2 aja ya Mam, Pak πŸ˜„).

Pilihan kota untuk transit adalah Pekalongan atau Purwokerto, daerah yang udah punya bbrp jaringan hotel besar. Tapi setelah googling, Purwokerto relatif lebih punya banyak wisata & kuliner yang bisa dieksplor. So, Puerto Rico it is! πŸ˜…

Kamis (26/1) sekitar maghrib saya & suami sampai di rumah ortu untuk bermalam sebelum berangkat pukul 3:00 dinihari. Perjalanan Jumat itu relatif lancar, sebelum memasuki jalan alternatif Prupuk. Total ada 4 titik laka lantas di jalan yang hanya pas 2 jalur tersebut. Akibatnya, jadwal kita mundur sekitar 2 jam. Yang rencananya makan siang di Oemah Daun akhirnya skip, mengingat waktu yang udah hampir masuk jam maksi begitu kita tiba di Purwokerto. Yang ada, kita sarapan sekaligus makan siang di tempat yang seharusnya hanya jadi menu brekkie kita. Dimana kah itu? Soto Ayam Kampung H. Loso Jalan Bank tentunyaaaa….

Kuliner yang katanya wajib, tapi saya pribadi sih ngga doyan πŸ˜‚

Tempat makannya ada 2 yang saling hadap hadapan. Yang satu lebih kecil dan ngga ada parkir mobil, akhirnya kita makan di resto depannya yang katanya masih satu dapur.

Tampak depan, ada buah durian imitasi yang menggantung di atas pintu. Saya baca reviewnya disini juga menjual es durian. Memasuki restonya, di bagian depan langsung dapur dan toko snack. Di dindingnya banyak foto pejabat & artis yang pernah makan disitu. Tampaknya Pak Haji Loso eksis juga untuk urusan futu2 hehehe.

Ngga lama, datanglah 4 porsi soto dan 2 porsi es duren pesanan kita. Isian sotonya ada lontong, kerupuk aci & kerupuk mie, bihun, dan suwiran ayam kampung. Entahlah, menurut saya sotonya kurang asin dan di meja tidak disediakan garam. Overall soto ini bukan selera saya sih. Menurut saya, justru es durennya yang juara. Duren asli tanpa biji ukuran besar, ditambah gula merah dan kuah susu yang ringan. Disini Ibu saya sempet membeli kerupuk mie yang dijual perpak cuma 5000 perak.

Kenyang makan, kita langsung menuju Hotel Santika Purwokerto untuk check in. Hotelnya tampak baru, petugasnya ramah & sigap. Untuk welcome drink disajikan Wedang Ronde. Setelah masing masing mendapat kunci kamar, kita semua langsung tidur untuk istirahat. 

Jam 3 sore, kita siap untuk menjelajah Purwokerto. Dibuka dengan Niki Eco yang terkenal dengan es durennya. Hujan deras ngga menghalangi kita untuk minum2 dingin. Sayang, begitu sampai disana, mie ayamnya sudah habis, dan hanya tersedia es durennya. Oke, ngga masalah akhirnya kita pesan 3 porsi duren kopyor & duren original.

Masih penasaran sama mie nya!

Tapi sejujurnya, kita semua lebih suka es durennya Haji Loso. Es duren Niki Eco kuah susu coklatnya terlalu mahteh, ditambah durennya kecil2 dan lebih banyak kopyor. 
Disinilah serunya wisata kuliner. Yang di review sama ngerasain sendiri seringkali berbeda. Haji Loso yang terkenal sotonya malah kita lebih suka es durennya ketimbang Es Durennya Niki Eco.

Karena masih lapar, kita langsung menuju ke Bakso Sami Asih untuk isi perut. Tapi setelah sampai disana ternyata Bakso & Soto Sami Asih tutup setiap jumat. Ngga pake lama, meluncurlah kita ke option kuliner berikutnya; Bakso Pekih, yang letaknya di jalan kecil perumahan. 

Warung bakso yg rame & canggih, karena pesanan langsung diteruskan ke dapur via gadget

Pesanan kita antara lain; bakso polos, bakso telor, bakso urat, dan bakso urat + tetelan. Ternyata disini bakso yang disajikan sesuai dengan pesanan. Jadi kalau kita pesan bakso telor, yang kita dapat hanya 3pcs bakso telor. Tidak dicampur dengan bakso polos seperti warung bakso kebanyakan. Jadi, kalau mau pesan lagi lain kali sebaiknya sistem sharing & dikombinasikan dengan bakso polos. Jadi semua orang ngga terlalu kekenyangan dan puas icip2.

Puas nge-bakso, kita langsung menuju ke Sentra Batik di daerah Kauman, Sokaraja. Dari hasil browsing, yang paling tersohor adalah Rumah Batik Anto Djamil. Dan walaupun tidak seluas dan sekomplit Toko Batik Salma di Cirebon, koleksi Batik Banyumas warna & motifnya menggemaskan 😍.

Kelar belanja, kita langsung balik ke hotel sebelum siap2 buat makan malem. Makan malem sengaja kita pilih menu Angkringan, karena selain doyan, juga karena perut sebenernya ngga terlalu laper. Dan makan nasi kucing adalah pilihan tepat karena porsinya kecil. Angkringan Kang Moel yang letaknya di pinggir jalan dekat kampus Unsoed kita pilih. Lauknya lumayan komplit dan enak, kita juga bungkus bbrp nasi & lauk untuk orangtua saya yang memilih makan malam di kamar hotel.

Habis makan malam, kita menuju Choco Klik untuk dessert dan beli coklat buat oleh2 ponakan

Sayangnya begitu sampai, saya malah ngga selera sama display cakesnya. Akhirnya disana kita hanya beli coklat batangan untuk buah tangan.

Esok paginya, saya bangun awal untuk nge-gym dan renang. Gym nya kecil saja, menghadap kolam renang dan hanya tersedia treadmill dan sepeda statis. Kolam renang pun demikian, ukurannya kecil dan terletak di samping restoran. Jadi yang mau renang harus melewati ruang makan dulu.

Setelah renang, kita sarapan di pinggir kolam renang. Santika Hotel seperti biasa punya menu sarapan yang beragam. Bahkan menu lokalnya pun juga ngga kalah banyak. Kemarin itu selain menu standar seperti bubur ayam, omelet, salad bar, cereal, roti, nasi & lauk pauk. Juga ada menu Soto Ayam/Daging, Pecel Mendoan, Tempura, Steamboat, Nasi Kuning, Nasi Uduk dengan lauk tradisional. Yang saya suka, Santika Hotel juga menyediakan minuman sehat seperti Jus buah sayur, jamu, wedang ronde dan infused water.

Ku bahagia ketemu jamu 😘

Minuman sehat & enak yg surprisingly suami bisa habis 3 gelas, dan minta dibikinin di rumah. Yaaas!

Kelar sarapan, kita bersiap2 untuk kondangan di Banjarnegara dan langsung check out, sebelum langsung ke Jakarta.

Happy Wedding Ade! Jangan resign dulu yaaa, kita kan msh mau jalan2 πŸ˜‚

Notes:

– Jangan lupa nyobain aneka cemilan di Soto Ayam Kampung Haji Loso. Mendoan dan tahu isi ikan yang disajikan panas panas di tiap meja. 

– Waktu makan di Bakso Pekih, Ibu saya dapet Bakso Urat yang kasar & keras, bikin acara makan beliau jd ngga nyaman krn dikit2 harus melepeh uratnya. Tapi suami yang sama2 pesen bakso urat ngga sih.

– Berhubung kena macet & cuaca buruk, sayang sekali kita belum kesampaian untuk wisata alamnya di daerah Baturraden. Padahal di itinerary saya masukkan Curug Jenggala, Telaga Sunyi & Pancuran 7 (pengen banget mandi, masker dan pijet belerang πŸ˜”).

– Baru tahu kalau ternyata daerah Banjarnegara sekitarnya durian melimpah, dan es duren ada dimana2. Di perjalanan menuju Banjarnegara, tepatnya di daerah Purbalingga, mobil kita sempet melewati warung es duren kecil di pinggir jalan sebelum jembatan yang rame banget! Karena penasaran, pulangnya kita mampir untuk take away. Ketika dikasih tahu kalau Esnya akan dibawa sampai Jakarta, pemilik warung langsung mengemas es duren dengan rapi, lengkap dengan es batu, styrofoam dan kardus. Padahal kita hanya beli 3 porsi aja dan warungnya pun sederhana banget. Eh-mey-zing!

– Dalam perjalanan balik ke Jakarta, kita sempat mampir makan malam di daerah Tegal. Tepatnya di Sate Tegal Wendy’s di daerah Mendo.

Ini petjahhh! Udahlah enak & murah bgt…

Warungnya rame, dan kita kehabisan gulainya. Sate kambing disini disajikan diatas hotplate. Saking enaknya suami sampai bertekad untuk balik lagi kalau ada kesempatan.

Sampai ketemu di review liburan berikutnya! Semoga secepatnya yaaa

Jogja – Solo Trip (2)

Yuhuuuu…mumpung masih seger di ingetan, so drpd harus minum gibolan dulu kalo mau nulis trip report, mending kita langsung lanjut aja yah. Let’s go!

Sore itu cuaca hujan mengiringi perjalanan kita dari Jogja menuju Solo. Tiba di Solo kira2 maghrib, dan kita langsung menuju Hotel Asia untuk taro barang.

Yang pertama kita aware begitu masuk area hotel ini adalah….burung waletnya banyak banget! Mobil & halaman parkir penuh dengan kotoran burung, yang menjadikan hotel tampak kotor. Dan bukan cuma bagian luarnya aja yang kotor, kamar pun. Yang dirasa dari hotel ini juga suasananya yang antik, dan spooky menurut keluarga gw. Hotel ini vintage abis, apalagi pas makan pagi suami sempat komentar kalo seragam waitresnya masih yang sama kaya di film Dono. Dono jadul yah bukan yg reborn hihi..

Kayanya buat pengalaman aja nginep di Hotel Asia, apalagi pas kita tahu kalau kolam renangnya terbuka untuk umum, dengan biaya yang lumayan murah.

Skip skip, akhirnya kita sampai di Ruko adik gw di Solo, dimana bokap udah lama nungguin. Oya, gw, suami & adik ipar sempet balik lagi ke Hotel buat ambil obat nyokap yang ketinggalan di kamar kakak. Balik lagi ke ruko, ngga berapa lama kita makan malam di tempat legendaris, yaitu Susu Segar Shijack. Tapi entahlah mungkin rekomendasi adek gw kurang atau gimana. Sampai sana lauknya udah banyak yang habis, yang mana akhirnya gw cuma pesen nasi liwet.

Habis makan malam, kita anter bokap nyokap dulu di daerah Ngoresan. Tempat kost2an dekat kampus UNS yang dikelola Bokap pasca pensiun. Begitu selesai ngedrop adek & ipar. Kita langsung ke Hotel buat istirahat.

Yang gw pikir bisa langsung istirahat, ternyata tas isi toiletris & colokan masih ketinggalan di mobil πŸ˜‘. Ditambah suami yang rewel karena ngerasa masih laper. Karena gw juga ngga berani sendirian di kamar (kamar mandinya gede bgt sis), akhirnya kita ke bawah lagi cari makan. Jalan kaki dikit akhirnya nemu gerobak tektek. Karena nasi gorengnya habis, akhirnya suami pesan mie & bihun goreng. Rasanya lumayan sih, mungkin karena dimasaknya pake anglo.

Besok paginya kita ke Pasar Gede buat beli oleh oleh habis sarapan. Di Pasar Gede juga sempet beli Es Dawet Telasih Bu Dermi yang konon langganan Jokowi. Di Pasar Gede seperti biasa beli keripik2 an dan kerupuk kulit pesenan ponakan Suami. Eh sempet2nya gw beli alpukat sekilo hihi maklum emak2 banget, mumpung nemu murah. Itu juga diumpet umpetin biar suami ngga tahu.

Dari Pasar Gede, lanjut ke PGS. Karena kakak ada titipan buat beli daster mertua. Saya juga sempet beli daster di Kencana Ungu. Kencana Ungu udah langganan nyokap dari dulu, dan biarpun di Jakarta ada koleksinya ngga sebagus yang di Solo menurut saya.

Sebelum check out, kita ngobrol2 dulu di kamar hotel. Pas jam makan siang, baru lah kita menuju salah satu tempat makan favorit di Solo, Warung Spesial Sambal SS. Selain enak, pilihannya banyak & sambelnya bener2 bikin kalap. Harga juga terjangkau banget, tapi entah kenapa SS buka di Jakarta kok malah ngga laku ya. Hiks

Warung SS siang itu rame banget! Asli, makanan kita keluar setelah nunggu selama 2 jam. Bokap & ponakan kecil udh mulai cranky karena laper. Tapi after all, puas lah makan disini.

Habis makan, pamit pamitan dan dimulai lah perjalanan kita pulang ke Jakarta. Oya, dalam perjalanan balik, kita sempet berhenti buat makan malam di resto Nyoto Roso daerah Kecipir, yang sajian utamanya Ayam (kampung) goreng.

Highlight of The Trip:

– Pulang pergi Jakarta-Jogja-Solo-Jakarta supirnya tetep suami. Amazing! Biarpun berkali2 ditanya ngantuk atau mau gantian nyetir sama kakak ipar, doi tetep kekeh nyupir.

– 2 minggu sebelum berangkat, ponakan paling kecil kena cacar. Di perjalanan berangkat, kakaknya ketularan. Eh di perjalanan pulang ibunya juga kena πŸ˜‚

– Kalo mau ke Jolie, pastikan yang kamu tuju Jolie Wirobrajan. Karena salah satu cabangnya hanya menjual barang fashion.

– Di Jogja sekarang banyak banget Cafe yang design interior & menunya ‘serius’. Beneran berasa di Bandung deh kemaren. Seneng sih! Sayangnya, rata rata ngga punya tempat parkir yang mumpuni. Penuh dengan parkiran motor semua.

– Yang lagi hamil mending jangan nginep di Hotel Asia kali ya. Karena jendela kamar hotel kalau dibuka juga penuh dengan kotoran burung.

Sekian review saya kali ini. Nantikan trip selanjutnya 😊

Jogja – Solo Trip (1)

Tadaaaaaa…dateng2 langsung kasih laporan liburan. Yah berhubung sumbu kehidupan makin pendek, mari kita piknik! πŸ˜‚

Trip ini sih sebenernya ngga direncanain dari lama. Jadi awalnya nyokap minta temenin buat pulang ke Solo naik kereta. Dan suami pengen ikut banget dong, secara doi udah dari dulu pengen jalan ke Solo. Nah berhubung mobil kosong, kita tawarin kakak buat ikutan. Ijinnya sih cuma dia sama anak2nya, eh ternyata suaminya juga mau ikut. Oke sip, berangkat lah gw, suami, nyokap, kakak, kakak ipar & 2 ponakan. Oya, berhubung semuanya emang tukang jalan, so semua sepakat kalo bakal nginep semalam dulu di Jogja.

Kita berangkat jumat dini hari, sekitar pukul 2 gitu deh dari rumah nyokap di Cakung. Perjalanan lancar, biarpun mobil agak2 penuh & sesak. Tiba di Jogja kita mampir makan siang dulu dong. Sebenernya sih NicSap nyuruh gw buat makan Sate Klathaknya Pak Bari *halu, tapi pas sampe tutup aja gitu. Akhirnya kita makan di Sate Klathak Pak Pong, yang untungnya lokasi ngga jauh dari situ.

Penampakan Sate Klathak & Tongseng

Habis makan, secara udah pada capek & kakak plus ipar ngga enak badan, akhirnya kita langsung Check In ke Hotel. Hotelnya selalu kita pilih yang sekitar Malioboro, kali ini kita nyoba nginep di Sakanti Hotel.

Berhubung bawa ponakan, kolam renang is a must

Hotelnya dekat Stasiun Tugu, bersih & nyaman. Petugas Hotel juga helpful, Hamdalah kita dapet kamar sebelahan dan di lantai bawah dekat kolam renang. Bahkan kita dapat satu kamar yang isi bednya queen & single. Horeee!

Sore itu kita habiskan dengan renang. Kelar renang, sementara yang lain memutuskan untuk istirahat. Saya & suami makan malam di angkringan dekat Stasiun Tugu, sementara yang lain minta bungkus untuk dimakan di kamar.

Favorit! Cuma di angkringan yang sate kerangnya berlimpah & ngga pake rebutan. *LirikSotoKudusBlokM

Sempet icip Kopi Jos pesenan suami. Dipikir rasanya kaya gimana karena dicampur arang, ngga taunya sama aja kaya kopi item biasa πŸ˜‚.

Habis anter pesenan nasi kucing & lauk ke hotel, kita pamit keluar lagi buat ke tempat sodara Suami yang tinggal di Jogja. Sementara situasi kamar sebelah suami istri udah saling kerokan & aroma minyak angin udah merajai kamar. Nyokap mah udah pasti mau tidur jam segitu, apalagi dari Jakarta udah batpil. Cuma kita yang anak muda masih pengen jalan hehe.

Sebelum ke rumah kerabat suami, si istri minta mampir makan esgrim yang lagi hits di Jogja. Apa ya? Ini dia…

Mango Sorbet – Lemongrass – Vanila Choco

Tempo Gelato dikenal karena menyediakan rasa yang unik-selain rasa gelato yang mainstream-kaya kemangi, sereh atau kunyit. Kemarin kita cuma berani nyoba yang sereh, dan oke oke aja tuh!

Kelar ngeskrim, cus kita ke tempat sodara suami yang ternyata orangnya lagi ngga di rumah. Akhirnya kita langsung ke tujuan berikutnya, Nanamia Pizzeria. Berhubung masih kenyang, kita putusin buat take-away aja. Toh pasukan kita di hotel banyak, jadi bisa makan pizza ramean.

Jogja ujan, jadi pesen hot coklat sembari nungguin pitja

Pizzanya enak lho, otentik banget! Sayang saya lupa foto penampakannya, karena sampe kamar hotel lampu udah dimatiin.

Paginya, bocah bocah pada renang lagi. Sementara nyokap nungguin ponakan renang, kita sarapan di kedai lontong sayur padang punya temen suami. Lontong sayurnya light, mungkin karena disesuain sama lidah Jawa. Tapi kedai kecil itu rame banget, nyaris ngga ada meja yang kosong dalam waktu lama. Kita juga sempet beli gudeg di kios sebelahnya buat oleh2 bokap.

Balik hotel istirahat bentar, beres2 dan check out. Destinasi selanjutnya adalah Jolie Wirobrajan. Jadi tempat ini adalah toko one stop shopping 3 lantai yang terdiri dari aksesoris, peralatan dapur & rumahtangga, dan terakhir fashion. Tapi yang buat Jolie ini terkenal adalah barang pernak pernik rumah & dapurnya yang lumayan lengkap. Dari model vintage, industrialis, retro, shabby chic semua bikin kalap karena lucu lucu.

Pernak pernik yang biasa dijual di olshop

Aneka hiasan & jam dinding

Shabby Chic alert

Lantai bawah; aksesoris

Puas menjelajah si Jolie *soundswrong , kita pergi buat makan siang. Karena hanya saya yang pernah makan disana, akhirnya kita pilih venue Jejamuran. 

Kali kedua ke Jejamuran udah banyak perubahan. Tempat parkir makin banyak, gubug & kebun jamur tiram kini berganti jadi tempat makan. Dan sekarang disediakan terapi ikan gratis sambil nunggu pesanan makan datang.

Udah banyak menu baru & variasi jamur makin beragam. Laf!

Selesai makan, barulah kita menuju Solo. Untuk postingan Solo menyusul yaaa…

Nantikan postingan selanjutnya!

[Review] Quicksilver ; A Cruise in Bali

Mari berlayar!

Mari berlayar!

Halo! Kali ini saya mau review pengalaman saya ikutan berlayar dengan Quicksilver di Bali. Sebenernya ini kejadian tahun 2010 hehe, tapi mudah mudahan masih valid deh. At least, ada bayangan buat pembaca kalo mau ikutan trip sejenis. Jadi per orang waktu itu harganya 500 ribu.

Dari hasil browsing, sebetulnya ada 2 jadwal pelayaran; siang dan malam. Cuma saya memutuskan untuk ikutan yang siang, krn malam termasuk hipster. #Eh

Untuk trip siang hari, dimulai dr jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Harga sudah termasuk penjemputan dari dan ke hotel – Nusa Penida, snack all you can eat + Lunch buffet, dan water sport beserta perlengkapannya. Singkatnya, selama berlayar semua free, kecuali diving. Diving waktu itu kena 250rb/pax.

Setelah konfirmasi lewat telepon, tibalah waktu yang ditentukan. Mobil jemputan datang tepat waktu, sekitar jam 7.30 pagi. Setelah itu mobil APV mengarah ke hotel di Kuta untuk menjemput tamu lain. Supirnya mohon agar kami pindah ke seat paling belakang dengan alasan tamu selanjutnya dari Arab dan biasanya agak rewel. Huh, kesal sih! Tapi karena dalam rangka liburan kita menolak ribut dan bersedia duduk di barisan paling belakang. Sepasang tamu arab pun datang, dan si lelaki (dgn mata jelalatannya) berinisiatif mengenalkan istrinya yang bercadar, dan mengatakan ini adalah perjalanan ke Balinya yang ke lima sekaligus bulan madu. Tahun 2010 itu, saya baru 3x ke Bali dan lumayan kaget juga orang Arab bersedia menempuh jarak jauh demi bolak balik pergi ke Bali.

Singkatnya tibalah kita di pelabuhan Nusa Penida, setelah membeli tiket masuklah kita ke dalam kapal. Kapalnya 2 tingkat ukuran sedang, dengan tempat duduk berjajar panjang. Setelah memilih tempat duduk dekat jendela, kita langsung mengambil snack makan pagi berupa air lemon, jus jeruk dan berbagai macam buah dan roti. Semuanya bisa ambil sekenyangnya. Dari lapata, sebagian besar peserta adalah turis Asia dan asing. Waktu satu jam pelayaran kita manfaatkan dengan tidur dan foto2 di sekitar dek.

Interior dalam kapal

Interior dalam kapal

Tampak depan

Tampak depan

Akhirnya kita sampai di dekat pulau, kapal tetap di tengah laut yang dinamakan Pontoon. Lalu semua peserta bergantian naik perahu kecil menuju kapal selam untuk melihat dasar laut.

Ini nih yang namanya Pontoon ngambang :p

Ini nih yang namanya Pontoon ngambang :p

Perahu yang membawa kita ke Pulau dan kapal selam

Perahu yang membawa kita ke Pulau dan kapal selam

Ngintip keindahan dasar laut dari balik kaca

Ngintip keindahan dasar laut dari balik kaca

Setelah puas melihat ikan2 yang berenang dari balik kaca, kita diantar ke sebuah pulauΒ  dan mengunjungi desa Toyapakeh.

Disitu kita menyaksikan penangkaran penyu yang luar biasa besar dan berat (waktu pose dgn mengangkat si penyu, gw hampir menjatuhkan saking ngga kuat beratnya). Lalu ada sesi makan kelapa muda bulat sambil nonton sabung ayam (Sumpah ngga penting banget sih ini, apalagi pd minta taruhan dollar).

Peserta juga diarahkan untuk melihat suvenir hasil kerajinan penduduk pulau ini. Namun karena barangnya kurang menjual, saya pun tidak tertarik.

I DO MISS BALI!!

I DO MISS BALI!!

Anak anak pulau. Sayangnya mereka minta uang ke turis2 :(

Anak anak pulau. Sayangnya mereka minta uang ke turis2 😦

Setelah puas berkeliling pulau kecil itu, kami pun kembali naik perahu untukmenuju kapal yang bersauh di tengah laut. Dan tibalah yang kami tunggu2, permainan air. Pertama kita nyoba untuk snorkeling, setelah memilih pelampung, fin dan masker kita langsung nyemplung ke laut. Oya, untuk standar keselamatan saya acungi jempol deh. Lifeguard banyak di sekeliling untuk membantu peserta, dan arenanya didesain untuk aman jika kita terpeleset atau jatuh. Ada juga balon pembatas untuk area snorkeling yang diamankan. Ternyata susah juga ya berenang di laut memakai pelampung, arusnya bikin capek.

Oya, waktu itu pertama kalinya saya ber snorkeling ria. Kesannya, spooky! Ternyata dalamnya laut mirip hutan rimba yang misterius. Ditambah saya movie freak yang sering nonton film macam Piranha dsb. Jadi begitu ada rombongan ikan2 yang melintas, bikin saya parno jangan jangan ada ikan hiu di belakang mereka. Hiiiiyyy….

Puas snorkeling lanjut dengan sliding yang langsung nyebur ke laut. Sensasinya beda banget, seru! Lalu kita ikutan antri buat naik banana boat. Mungkin karena ini wisata khusus, jadi pengemudinya berbaik hati tidak membiarkan penumpangnya tercebur di laut seperti lazimnya kita naik banana boat.

Puas olahraga air yang cukup menguras stamina, kita pun istirahat sambil makan siang di dek atas.

Menunya cukup lengkap, ada nasi dan lauk pauknya, aneka seafood, sushi dan dessert. Bolak balik nambah berhubung water sport kan banyak menguras tenaga (alesan…).

Dek atas tempat makan siang

Dek atas tempat makan siang

Setelah makan yang dilanjutkan lagi dengan snorkeling, akhirnya kita pun membersihkan diri dan bersiap untuk perjalanan pulang.

Sekian pengalaman saya naik Quicksilver di Bali, kabarnya ada juga Quicksilver yang berlayar di pulau Tidung. Sayang, saya belum ada kesempatan mencobanya. Ada yang sudah naik Quicksilver ke Pulau Tidung?