About ilivedonce

Because Life Is Sharing!

Review : Rumah Pasta

Review makanan is back!

Berhubung makanan ini layak di rekomendasikan, namun minim info (karena baru buka seminggu juga) jadilah aku mau sharing pengalaman makan disana.

Penampakan kedai

Lokasi outletnya di samping KFC Bulungan, Blok M. Jadi kita bakal makan di area outdoor pinggir jalan alias kaki lima. Tapi jangan salah yaa, dari kualitas masakannya sih bintang lima banget. Kaya apa tuh? Nanti dijelasin deh.

Disini hanya tersedia satu meja yang kira2 cukup buat sekitar 8 orang. Parkir motor relatif lebih mudah, tapi kalo bawa mobil terpaksa harus numpang di halamannya KFC yg sebenernya juga ngga terlalu luas.

Menu saat saya datang baru ada 3 pilihan topping; rendang, udang pedas & ayam. Saya dan suami pesan masing masing rendang & udang pedas.

Untuk menanti pesanan harus bersabar & usahakan jangan dalam keadaan laper berat. Tamu sebelah saya akhirnya pesan Sate Usus di angkringan sebelah, saking udah ngga nahan. Hal itu karena kru hanya 2 orang (ya masak, ya terima order, ya kasir). Dan semua makanan dibikin dari scratch, alias mereka langsung bikin homemade fettucininya.

Jadi inget dulu saya pernah bikin mie sendiri, dipotongnya manual persis kaya gini. Bedanya saya pake penggaris biar lurus 😂

Mulai dari ulenin adonan sebentar, giling adonan & dipotong manual dengan pisau. Setelah itu direbus sampai al dente, baru mulai diolah. Yang bikin saya penasaran mau coba, karena mereka menggunakan mangkok keju parmesan untuk pastanya.

Fettucini yang siap dicampur Keju Parmesan, sementara aroma wangi tercium dari wajan

Pasta pesanan kita hadir di piring plastik hitam dengan topping yang berlimpah, disertai saos sambal sachet. Karena penasaran dengan rasa asli fettucini nya, saya singkirkan dulu toppingnya ke pinggir. Rasanya enak, terasa sekali creamy tanpa rasa blenek yang berlebihan.

Untuk topping rendangnya tekstur agak keras walau enak. Sementara udang pedasnya adalah udang balado yang ngga kalah pedes dari nyinyiran netizen. Alias pedes gila!

Berhubung udah lewat maghrib jadi agak gelap fotonya

Dari hasil ngobrol dengan krunya (yang salah satunya adalah Chef di Restoran Italia), mereka memang mengutamakan bahan yang fresh dan bermutu. Saya juga sempat menanyakan bahan yang digunakan. Selain kuning telur & keju parmesan, mereka juga menggunakan Cooking Cream (yang dipakai untuk menggantikan Fresh Milk, krn malah membuat rasa pasta nya jadi manis). Bahkan untuk melapisi adonan pastanya mereka menggunakan tepung gandum, yang teksturnya mirip susu bubuk.

Yang saya salut, mas nya kasih penjelasan tanpa ada nada sombong atau menggurui, walaupun saya yakin dia pasti sudah berpengalaman di bidangnya. Bahkan ketika suami saya menanyakan mengapa pasta nya tidak dipotong menggunakan alat, dia dengan jujur bilang bahwa adonannya tidak lentur karena kurang telur.

Dengan penjelasan yang diberikan, rasanya total kerusakan 45k jadi terasa murah. Kami pun pamit sambil berjanji akan datang lagi lain waktu dan mendoakan kesuksesan mereka. Walaupun sebenarnya dalam hati berharap di kunjungan kami berikutnya ada pilihan topping standar semacam smoke beef/jamur. Sebab menurut saya rasa pasta yang sudah kuat, lebih cocok dengan topping yang rasanya lebih netral.

Advertisements

Kalimat Ancaman Buat Suami

Sehubungan dengan maraknya peredaran pelakor di sekitar kita, saya yakin banyak istri istri di luar sana yang udah siap siaga.

Nah, apa sih kata andelan kalian kl lg ngancem sang suami?

Saya pernah denger ibu saya mengancam ayah saya akan membakar mobil baru yg dibeli ayah, kalau beliau selingkuh.

Waktu itu sih cukup horor yhaa, secara garasi kita nempel banget sm rumah, dengan satu satunya pintu masuk. Lagian saya nanti kuliah naik apa kalau jadi mobil dibakar? 😂

Lain dengan teman saya, yang menurut saya cukup idealis. Ancamannya ke suaminya bila aneh2 di luaran adalah, akan keluar rumah tanpa mobil & harta. Hanya membawa anak mereka satu satunya dan jangan harap bisa ketemu (anak) lagi.

Sebenernya di kejadian nyata, hal ini pernah terjadi sama tetangga saya. Waktu itu suaminya yang pelaut memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang dokter gigi. Istrinya lalu meninggalkan rumah ke kampung orangtuanya di Cirebon. 4 anaknya kebetulan sudah besar semua (kuliah & Sma), sehingga anak mereka tetap tinggal di rumah mereka.

Walaupun banyak tetangga yang menyayangkan keputusannya (suami yg poligami, tapi dia yang meninggalkan rumah), namun akhirnya berakhir bahagia. Karena beberapa tahun kemudian, suaminya bercerai dengan istri kedua. Dan akhirnya mereka berkumpul lagi layaknya keluarga yg utuh.

Kalo saya pernah mengancam suami dengan kata kata seperti ini, “abang tahu aku licik, shio ku monyet bang. Kl abang nanti nyakitin aku, abang tahu sedang berhadapan dgn siapa”.

Maknyus ngga tuh?

Trus apa reaksi suami?

Biasa aja tuh, kesel deh hahahaha

Trip Gili Trawangan – Lombok 2018

Hai semuaaaa..

(Masih fresh abis liburan, jadi bawaannya ceria 😂).

So, minggu kemaren, tepatnya 23 April lalu, saya & suami AKHIRNYA punya kesempatan libur 4 hari.

Biarpun ‘cuma’ 4 hari, tadinya kita juga maju mundur, jadi liburan atau tetep kerja aja. Yah, walaupun kerja sendiri kan tetep aja sayang kalau nutup.

Beginilah nasib kalau ngga ada karyawan. Fyi, tiket ke Lombok ini dulu kita beli tanpa menghitung dulu kira2 karyawan kami yg lagi cuti hamil udah balik atau belum. Murni beli pas promo buat ngerayain Anniversary kami di tgl 26 April. Dan tyt di tanggal keberangkatan kami, usia anaknya masih 4 bulan ajah 😩. Yang artinya belum bisa ditinggal dong yaa.

Tapi setelah kita pikir, nyaris kerja non stop selama 7 bulan. Apa itu weekend? Apa itu tanggal merah? Apa itu long weekend? Semuanya kita isi buat kerja. Yang lebih kasian sih suami, krn dia ngga ada libur. Sementara saya seminggu sekali ada libur, itu juga terpakai buat ajak ortu jalan & bebenah rumah. Jadi liburan ini akhirnya kita mantapkan hati buat berangkat.

Lombok, embrace yourself!

Senin, 23 April 2018

Jadwal penerbangan kami dengan Maskapai Citilink sekitar pukul 5.45 pagi keberangkatan dari Halim. Dijemput jam 3.15 oleh supir takol (taksi online) temen suami, yg kebetulan rumahnya deketan.

Oya, saya beli tiket promo Citilink ini 9 bulan sebelum keberangkatan. Nah, sebelum pergi saya sempat cek ratenya kalau2 ortu mau ikut, dan cuma beda 200rb ajah sama tiket promo kita. Tapi tyt tiket promo kami punya banyak kelebihan sih. Contohnya, bisa pilih kursi, masuk ke zona green ticket yang lewat garbarata, dan sudah termasuk makan.

Dapet kursi paling depan. Legaaa dan bonus bisa ngamatin tugas2 pramugari. Psst..saya baru tahu cara nutup pintu pesawat ya pas kmr itu hihihi

Free meal ‘Nasi Jinggo’. Biarpun minimalis & nasinya anyep

Pemandangan dari pesawat

Perjalanan cukup lancar, walau pas mau take off Jakarta diguyur gerimis.

Sampai bandara, kami sudah dijemput oleh drivernya Pak Surya. Kami sengaja sewa mobil selama di Lombok menggunakan jasa rental BSA (0878.6584.8111). Pak Surya ini saya rekomendasikan lho, soalnya ngga ribet dan helpful. Walaupun kita kehabisan mobil jenis matic, tapi ya sudahlah, paling suami perlu penyesuaian dikit nyetir mobil manual lagi.

Keluar bandara, kita langsung menuju RM. Cahaya untuk brunch Nasi Balap Puyung.

Letaknya pas di seberang bandara. Langsung kesitu, soalnya nanti pulang penerbangan pagi banget ngga bakal sempat.

Selama di Lombok, cm disini yg plecing kangkungnya pake kelapa parut. Laf!

Setelah tukar mobil (kita dijemput dengan Innova, untuk kemudian ditukar dengan mobil sewaan, Calya) dan melakukan pembayaran. Kita langsung menuju Pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Di Bangsal, kami masuk ke dalam pelabuhan untuk parkir inap, dengan biaya 30rb/hari untuk mobil.

Untuk menyeberang ke 3 Gili (Trawangan, Meno, dan Air), tersedia 3 jenis kapal. Kapal Kayu (Public Boat), Fast Boat & Private. Pelabuhan Bangsal hanya melayani Public & Fast Boat.

Jika anda pergi secara rombongan, lebih efisien jika menggunakan Private Boat, yang memiliki pelabuhan sendiri. Namun jika anda tipe petualang dan langsung menuju Gili Trawangan, bisa mencoba Kapal Kayu (Public Boat) seharga 15rb/pax. Namun harus menunggu kuota 40 orang dulu baru berangkat.

Saya dan suami memilih naik Fast Boat yang cukup nyaman. Kapal berhenti dulu di Gili Air, Meno, lalu lanjut ke Gili Trawangan.

Sampai di Gili Trawangan, hati saya langsung hangat. Selain akhirnya bisa menginjak pulau yang air lautnya bening tosca, saya merasa seolah ngga berada di Indonesia, karena lebih banyak bule bikinian berseliweran. Pokoknya langsung saya rekam video dan upload ke IG dgn caption ‘Island Lyfe’ (ciyeeeeeh).

Karena sudah jam makan siang, kami langsung menuju ke Warung Ibu Dewi yang ngga jauh dari harbour.

Ayam Taliwang & Cah Kangkung

Selama di Gili Trawangan, kami menginap di Hotel Aston, yang terletak di ujung Pulau. Namun, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana ketimbang naik Cidomo. Sekalian bakar kalori dan eksplore Gili Trawangan.

Sesampai di Hotel, kami istirahat sebentar lalu langsung meminjam sepeda untuk keliling pulau. Salah satu fasilitas yang diberikan Aston adalah sepeda gratis. Hal itu sangat memudahkan kami dari segi transportasi. Aston kami rekomendasikan karena selain wifi yg kencang (bahkan masih menjangkau di tepi pantainya), Club Beachnya yang merupakan posisi terbaik dalam menikmati sunset, juga tersedia air minum dingin gratis buat para tamu. Selain itu, sarapan di Aston juga sangat memuaskan.

Oya, karena liburan ini untuk merayakan Ulang Tahun Pernikahan, kami mendapat kejutan manis dari Hotel Aston Gili Trawangan.

Terima kasih Aston!

Setelah menikmati sunset di pinggir pantai, kami langsung bersepeda menuju Night Market untuk makan malam. Kami menikmati nasi rames dengan sate tuna disana. Selain seafood, juga tersedia aneka jajanan pasar dan jagung bakar.

Setelah perut terisi, kami bergegas balik ke hotel. Karena perjalanan menuju Aston, masih sepi dan gelap di beberapa titik. Tapi tenang saja, dijamin aman kok, dan beberapa kali kita berpas pas an dengan bule.

Oya, tips dari kami, selama di Gili Trawangan lebih murah bila kita pesan air mineral ketimbang es teh (tawar). Harga makanan memang lebih mahal, maklum lah secara bahan pokoknya harus diseberangkan menggunakan kapal.

Sayangnya, harga untuk penduduk lokal dan turis tidak ada perbedaan. Bahkan Cidomo pun terkesan mahal dan tidak manusiawi. Karena selama perjalanan kuda dipaksa ngebut (walaupun di jalan rusak sekalipun), untuk kejar target setoran. Padahal penumpang jauh akan lebih menikmati jika Cidomo berjalan santai.

Selasa, 24 April 2018

Setelah menyeberang kembali ke Lombok, kami pun memulai perjalanan di Mataram. Tujuan kami adalah beli oleh-oleh. Kami membeli kaos, songkok, tas dan souvenir lainnya di Toko Arief (dekat Pasar Cakranegara).

Setelah itu, kami mencari oleh oleh berupa makanan di Phoenix Food. Kami membeli minyak Sumbawa, dodol rumput laut, kacang mete dan tak lupa terasi bakar khas lombok.

Terakhir, kami mampir ke Sasaku untuk membeli kaos. Setelah itu, kami makan siang di Sate Rembiga Ibu Sinnaseh.

Sate Rembiga, Sate Pusut, Bebalungan & Beberuk

Setelah makan, kami langsung Check In di Hotel Lombok Astoria. Sayangnya kami mendapat kamar yang ACnya tidak dingin dan TV no signal. Setelah komplain berulang2, barulah kami mendapat penggantian kamar. Bahkan wifinya hilang timbul selama 2 hari menginap disana.

Kami keluar hotel untuk makan malam, pilihan kami adalah Ayam Bakar Taliwang Irama. Kami memesan Gurame Bakar Taliwang, Plecing Kangkung, dan es Kelapa Muda Kristal.

Ketika harga ikan Gurame sama dengan ikan Nila, you know what to choose. Lagian ayam kampung di Lombok kurus banget, nyaris ngga ada dagingnya

Oya, tips bila kamu makan di RM. Ayam Taliwang Irama, sepertinya harga makanan sudah termasuk air mineral gelas. Jadi kalau mau lebih hemat sih ngga usah pesen minum lagi.

Rabu, 25 April 2018

Untuk menu sarapan, Hotel Lombok Astoria cukup mengesankan. Dengan menu yang lengkap & variatif, juga ditambah pemandangan infinity pool.

Makanan di Lombok tuh rata2 pedasnya di tingkat Advance. Saya yg termasuk penggemar pedas aja ngga kuat, makanya begitu nemu pisang seneng bgt! Lumayan buat bikin ‘padat’ BAB.

Kami segera menuju ke Pantai Pink sebagai destinasi terjauh selama di Lombok. Melewati medan berupa jalan rusak yang panjang di tengah hutan, akhirnya kami sampai.

Pink Beach (yang tidak pink) masih sangat sepi & terpencil, hanya ada beberapa pengunjung lokal dan segerombolan bule sedang berjemur. Kami tidak lama disitu. Kemudian sempat singgah di Tanjung Ringgit, yang saya minta suami untuk tidak meneruskan karena medannya berbahaya.

What’s so pink about this beach?

Destinasi berikutnya adalah Pantai Kuta Mandalika, yang sudah lebih komersial dan rapi. Banyak hotel/hostel & cafe di sekitarnya. Bahkan kami sempat menikmati Pop Mie di Indomaret depan pantainya persis.

Tujuan berikutnya adalah Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese yang letaknya berdekatan.

Setelah Sunset dan hampir gelap, kami bergegas menuruni Bukit Merese. Sebelum balik ke Hotel, kami makan malam dulu di Sate Rembiga Utama Ibu Ririn.

Kamis, 26 April 2018

Hari terakhir di Lombok, karena jadwal penerbangan kami 9.50 pagi. So far sih Lombok berkesan yah, walaupun sepertinya makin tua makin takut naik pesawat. Tapi ya makin tua juga makin susah move on kalo liburan. Piye jal? 😂

Yang jelas berliburlah selagi mata kamu masih bisa melihat & kaki kamu masih kuat melangkah. Karena akan ada masanya jiwa kita bosan di rumah terus, sementara fisik sudah ngga memungkinkan.

Berkunjung ke Taman Cerdas, Solo

Berhubung hari ini adalah Hari Anak Nasional, maka tulisan ini didekasikan buat seluruh anak Indonesia.

Sesuai dengan tema, maka saya akan menulis tentang Wisata ramah anak, yang kali ini terletak di Solo. Namanya Taman Cerdas Soekarno Hatta.

Taman Cerdas Solo sebenarnya adalah komplek edukasi buat anak anak. Selain taman outdoor yang tidak terlalu luas, ada juga ruangan/kelas yang bisa digunakan pengunjung untuk berkreasi atau menambah wawasan.

Taman Cerdas ini letaknya persis di belakang Technopark Solo. Setelah tulisan besar Technopark Solo di pinggir jalan raya arah ke UNS, ada jalan kecil pas 2 mobil, masuk ke dalam dikit baru deh ketemu yang namanya Taman Cerdas.
Kunjungan saya kesini sebenernya hanya untuk foto foto. Sekalian jogging pagi, karena letaknya ngga jauh dari Rumah Kost milik Orangtua di daerah Kampus UNS.

Untuk area Taman sudah bisa dikunjungi (saya datang sekitar jam 7 pagi), dan tidak dikenakan biaya. Waktu saya masuk, hanya ada beberapa orang yang duduk sambil main laptop, ada pula orangtua yang membawa anaknya main di sekitar taman. Saya lihat juga banyak pekerja Taman Cerdas yang sedang membersihkan area sebelum dibuka.

Di tamannya sendiri tersedia banyak bangku khusus pengunjung, patung figur, dan theater outdoor untuk pertunjukan.

Robot Raksasa

Area Pertunjukan Terbuka

Jurassic Park?

Suku Primitif Indonesia

Sayangnya saya datang sebelum jam masuk, sehingga tidak bisa kasih info kegiatan apa yang bisa dilakukan di Taman Cerdas.

Lain kali mungkin?

Lidah Minang

Dapet suami asal Minang, jadi pengen nulis soal kebiasaan makan dia & keluarganya. Mungkin semua udah pada tahu ya, kalau etnis Minang adalah salah satu suku yang sangat ‘membanggakan’ kuliner lokalnya. 

Maksudnya begini, rata rata Orang Minang pasti lebih pilih makan masakan Padang dimana pun dia berada. Yah memang masakan Padang luar biasa enaknya, tapi buat saya yang bukan orang Minang, terus menerus makan Padang yang ada malah eneg. Karena memang lebih suka sayur dan kurang doyan masakan bersantan.

Akibatnya, orang suku Minang jarang mau nyoba makanan lain. Bahkan saya baca, Whulandary (model asal Sum-Bar), waktu karantina saat Pemilihan Wajah Femina, ransum masakan Padangnya dikirim tiap hari ke hotel!

Mertua, ipar dan ponakan dari keluarga Suami pun seperti itu. Susah diajak travelling, karena pasti rewel urusan makan. Maunya makan di Restoran Padang. Jangan salah, suami pun dulu begitu……sebelum kenal sama saya yang hobi kulineran ini, ehem!

Ini cerita pengalaman kami jaman pacaran. Jadi ya, di dekat rumah dia ada RM. Bebek Goreng Slamet. Tau dong ya, bebek goreng crispy yang sambel korek pedesnya bikin lahap itu. Suatu ketika, saya yang kantornya dulu dekat rumah dia janjian makan siang bareng. Saya, secara doyan, yang tentuin tempatnya disitu. 

Setelah pesan, dan makan seperti biasa, saya pun lanjut ngantor lagi. Eh, malemnya dia bikin pengakuan kalau ternyata itu pertama kali dia makan di Bebek Slamet! 

Fyi, suami tinggal di rumah itu sejak kecil, dan Bebek Slamet itu udah buka dari beberapa tahun lalu. Kaget lah saya! Kok bisa ya, ada orang yang ngga mau nyoba rumah makan baru yang deket rumah? Mana bebek Slamet pula, salah satu resto bebek favorit. Dan cerita berlanjut karena esok harinya dia laporan kalau makan siangnya di Bebek Slamet, dan diulangi lagi pas makan malam 😂.

Yup, itu emang salah satu kebiasaan (buruk) suami. Kalau lagi suka sama satu makanan, bakal diulang terus sampe bosen. Tapi bosennya dia bisa semingguan lebih, gawat dong ya buat food blogger ala ala macam saya. Lah kapan kulinerannya kalau kencan makan disitu situ ajah. Ocen shay.

Kejadian lain adalah waktu kita mau nyobain makan seafood di Loobie Lobster. Waktu itu masih buka yang di Prapanca. Kelar makan, kita lanjut nonton di Holywood KC. Pas duduk duduk di lobi nungguin studio dibuka, suami yang saat itu masih jadi pacar berbisik, “eh abis nonton kita makan di Loobie lagi yuk”. Yang jelas langsung saya veto lah!

Efek positif dari kebiasaan suami yang frekuensi kedatangannya ke resto favorit lumayan tinggi adalah, kita jadi dikenal sama pegawainya. Akibatnya ada 2 tempat makan yang bahkan kita udah ngga perlu pesan lagi. Begitu tahu kita datang, pesanan seperti biasa langsung diantar. Yang satu warung mie ayam langganan dekat rumah, satunya lagi Soto Betawi H.Husein di Manggarai.

Nah, ada cerita lucu waktu kami sarapan di Soto Betawi H. Husein. Sebenarnya kita jarang makan disana pas hari wiken, lebih sering di hari kerja, karena kalo libur bakalan chaos saking ramenya. Tapi karena suami lagi pengen banget, ya udah nekat lah dateng. Mana udah agak siang lagi, dan bener aja sampai sana untuk dapat meja pun susah. Terpaksa kita nyempil dan sharing sama beberapa orang lainnya. Eh ngga lama pesanan kita udah dateng aja. Padahal satu meja itu kita yang dateng belakangan. Ngga enak hati banget, tapi karena lapar akhirnya kita senyum dan pamit makan duluan sama rangorang. Yang kemudian orang orang satu meja itu pun protes karena pesanannya belum dateng hihihi.

Setelah menikah pun, perlahan lahan resto/warung makan favorit dia (dan keluarganya), jadi berganti dengan resto langganan saya yang memang lebih enak. Ya keluarga saya kan hobi kulineran semua, jadi tahu lah mana yang enak dan mana yang lebih enak 😛

Bogor Short Trip ’17

Halo, jumpa lagi sama postingan libur singkat saya!

Berhubung ponakan baru masuk tanggal 17 July, dan literally mereka ngga kemana mana, akhirnya pas Lebaran kemarin tercetus ide untuk piknik ke Bogor.

Kenapa Bogor? Satu, karena kita udah lama ngga main ke Bogor. Dua, destinasi pengennya jangan yang terlalu jauh juga, secara masih musim mudik. Maklum, liburan sama orangtua yang udah balik kaya anak kecil ya banyak pertimbangan. Karena bokap udah gampang capek & ngantuk. Tapi kalo udah dijanjiin mau pergi, tiap hari pasti ditagih sebelum hari H 😂.

Karena kakak sekeluarga start dari Depok, jadi saya dan suami jemput orangtua dulu ke rumah. Sabtu (8/7) jam 6.30 pagi kita jalan dengan perut kosong, karena tukang risol langganan masih belum jualan. Hamdalah perjalanan pergi lancar, dan kita sampai di titik pertemuan sekaligus tempat sarapan di Rumah Apel.

Muka muka kelaparan. Dan makanannya enak enak semua, tapi untuk snack pie nya malah lebih suka yg asin ketimbang manis

Kelar sarapan, kita lanjut ke Saung Pemancingan milik teman bokap di daerah Katulampa. Ini hobi ponakan juga, makanya mereka udah siap bawa peralatan mancing pinjeman temannya.

Daripada mancing keributan….

Jadi selama mancing, selalu dapet ikan yang kecil2, dan akhirnya dilepas lagi. Ternyata umpannya kurang gede aja dong. Eeaaa pelit sih!

Gagal mancing karena amatiran semua. Tsk

Hasil tangkepan bisa langsung dimasak. Sebenernya pesen lele goreng juga (ngga kefoto), tapi karena ukurannya jumbo, bagian dalemnya masih basah/kurang matang

Kelar makan siang, kita langsung menuju hotel untuk istirahat sejenak. Kali ini kita menginap di Whiz Prime Bogor, yang ternyata letaknya strategis.

View kamar hotel

Shower Room

Toilet & Wastafel terpisah. Suka sih lay outnya, jadi ngga becek

Kamar Mandi yang terpisah dengan Closet & Wastafel

Karena ponakan udah ngga sabar mau renang, jadilah kita ikutan.

Kolam renangnya ngga terlalu besar. Ketinggiannya cuma 130 m, tapi lumayan lah buat gerakin bodi berbi

Keputusan untuk renang siang bolong (jam 2an) memang tepat, selain karena cuacanya mendung, karena ngga lama lobi check in hotel antriannya udah sampe pintu. Dan setelah kita kelar bilas, orang baru pada berdatengan buat renang. Pastinya bakal jadi cendol tuh kolam, apalagi shower buat bilas hanya ada satu.

Habis berenang timbul lapar. Saya, suami, nyokap dan kakak lalu pergi ke Sop Buah Pak Ewok untuk nyemil manjaah. Yang lain pilih untuk titip buat makan malam di kamar. Ternyata lokasinya terletak di perumahan ngga jauh dari Hotel, namun karena tidak tersedia parkiran, kita harus parkir agak jauh untuk kemudian naik ‘free shuttle’ berupa delman.

Heboh banget karena delmannya bukan tipe yang kokoh

Pesenan suami; Cuanky & Sop Duren (Sop Durennya B aja sih, banyak biji & es batunya)

Seperti biasa, ponakan kalo lagi liburan maunya makan ayam goreng tepung. Jadilah kita mampir dulu di gerai waralaba sebelum ke hotel. Oya, kakak sempet beli kue khas oleh oleh Bogornya Sheeren Sungkar yang menurut dia enak.

Karena yang lain pilih makan malam di kamar, maka hanya saya & suami yang keluar. Berhubung tempat parkir hotel terbatas dan Bogor malam itu macet banget, akhirnya kita makan di Bumi Aki yang bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Malem mingguan di Bogor

Esok paginya, kita semua turun ke Lantai Mezzanine untuk sarapan. Menunya sih ngga terlalu banyak, ada omelette, roti bakar, bubur ayam & kacang ijo, soto bandung, nasi (putih & kuning) & lauk pauk (ayam goreng, ikan gr. tepung dan cah cuciwis), plus buah, aneka jus, infused water dan kopi/teh.

Selesai sarapan, saya, nyokap dan kakak berjalan kaki menuju FO ngga jauh dari Hotel. Dalam perjalanan pulang, eh ngga sengaja kita lihat plang resto Kedai Kita. Karena tahu ponakan yang lagi renang bakal laper, akhirnya kita mampir untuk take away Pizza Kayu Bakarnya.

Balik hotel kita santai dulu di kamar, sambil nunggu waktu check out. Dan setelah kelar urusan hotel, kita langsung menuju tempat makan siang kita; Lemongrass.

Seperti yang sudah diduga, restonya penuh & antri. Tapi ngga lama banget kok, sementara yang lain foto foto di lokasinya yang Instagramable, kita udah dapet tempat duduk. Biarpun rame pengunjung, staffnya sigap, dan pesanan makanan cepat datengnya.

Ruang Indoor dan tempat nunggu antrian

Dapet spot yang strategis, Alhamdulillah

Setelah makan siang, maka kami pamit pamitan karena liburan telah usai. Kakak saya sekeluarga juga beda rute, karena mereka pilih lewat Cibinong. Dan perjalanan pulang kita memang lebih macet, sepertinya karena ada lomba lari Marathon yang diadakan hari itu. Yang rencananya mau beli oleh-oleh asinan bogor pun terpaksa dibatalkan, karena pasti kejebak macet.

Begitulah cerita liburan singkat saya di Bogor, semoga bisa kasih gambaran buat yang mau berkunjung ke Kota Hujan ini.

Notes:

– Di Saung Pemancingan Katulampa, pesan lah makanan sebelum jam makan. Karena bakal lama nunggunya, sebab hampir semua saung juga pada order.

– Hotel di Bogor banyak yang menyediakan fasilitas Delman untuk kebutuhan tamunya. Lumayan buat tambahan pengalaman dan transportasi jarak dekat.

– Parkir Di Lemongrass agak tricky, kalau sudah penuh kita diarahin untuk parkir di RS yang agak jauh dari Resto.

– Lama ngga ke Bogor, baru sadar kalau jalan di Kebun Raya Bogor kini satu arah. Dan Sabtu pagi itu kita lihat banyak orang yang jogging di trotoar KRB yang memang bagus.

Saya Vs Nasi

Kemarin, saya mengirimkan pesan ucapan terima kasih kepada seorang pakar Food Combining, yaitu Erikar Lebang. Begini isinya,

Halo Mas Erik,

Sebenernya saya follower di twitter, tapi mau DM ngga bisa. Dan saya cari alamat email di website pun tak ada.

Saya cuma mau ngucapin makasih, krn berkat Ramadan kmr full saur exclusive buah, jadi bisa ngga ketergantungan lagi sama nasi. 

Bahkan saat ini porsinya pun sudah berkurang jauh. Maklum dari kecil dididik sama ibu yg mindsetnya apa2 harus makan nasi dl. Sekali lagi makasih banyak, krn dl saya pikir candu nasi ini hanya bisa hilang dgn hipnoterapi.

Semoga Mas Erik sekeluarga sehat & berkah hidupnya. Aamiin 🙏

Yang ikutin blog saya mungkin pernah tahu soal kecanduan saya sama nasi, yang menurut saya makin kesini makin parah. Bahkan untuk perjalanan atau situasi yang tidak memungkinkan untuk ketemu nasi, saya selalu bawa bekal nasi/lontong. Jaga jaga daripada cranky atau ngerepotin karena sakit. Seringnya sih bungkusin Onigiri keluaran Sevel yang enak & praktis. Dan sekarang Sevel Indonesia sudah resmi tutup, oh andaikan sushi murah AEON ada di deket rumah.

Karena saya baru follow twitternya Mas Erikar (sebab waktu itu dia vokal sekali soal Pilkada), begitu memasuki Ramadan, saya teringat ritual Saur Eksklusif Buahnya. Sesuai namanya, saat Saur kita hanya mengkonsumsi buah & air putih. 

Sebenernya beberapa tahun lalu saya juga sempat nyoba. Tapi ngga full sebulan, maklum waktu itu masih jadi anak kos. Begitu ada kesempatan sahur di rumah ya ngga disia siakan hehe.

Nah tahun ini keinginan saya kuat untuk full saur eksklusif buah. Waktu itu sih niatnya karena pengen menguruskan badan. Apalagi sebelum puasa saya sudah mulai rutin lari, yang sukses bikin tubuh agak mengecil. 

Awal awal puasa, saya wajibkan ada Pisang dalam menu saur, dan minimal 3 jenis buah. Alasannya karena Pisang kan ngenyangin dan takut lapar jadi harus ada beragam macam buah. Lama kelamaan sih karena bosan & sudah terbiasa, ya ngga mesti ada Pisang dan sedikit buah pun juga ngga masalah. 

Menu sahur buah pertama. Karena setelahnya udah ngga pernah difoto lagi 😂

Efek berpuasa dengan Sahur Eksklusif buah antara lain perut jauh lebih enteng & ringan. Bahkan ketika langsung tidur setelah sahur. Untuk urusan lapar dan haus pun biasa saja, malah jadi tetap semangat dan ngga ngantuk. Rutinitas sahur pun jadi lebih praktis, karena kita hanya memotong buah, walaupun saya tetap menghangatkan makanan untuk santapan Suami.

Dan bonus yang paling menyenangkan adalah berat badan yang cepat turun. Yay! Dengan Saur hanya dengan buah, membuat nafsu makan kita jadi tidak berlebihan. Saya yang biasanya buka langsung makan berat, sekarang sudah ngga nyaman lagi.

Biasanya saya berbuka dengan minum air putih dan makanan ringan dulu. Lanjut dengan makan nasi setelah Solat Maghrib. Dan tidak makan apa apa lagi sampai waktunya Sahur.

Yang mengejutkan, saya juga mulai bisa mengurangi nasi. Kalau dulu di jam makan saya harus makan nasi, sekarang dengan mie, pasta, kentang, roti, atau jagung pun oke oke aja. Mungkin karena selama puasa sudah terbiasa tanpa nasi dalam jangka waktu lama. Suami bahkan sempat kaget, karena porsi makan saya berkurang drastis. Malah saya sempat menolak ajakan makan all you can eat saat buka puasa bersama, dengan alasan takut mubazir #MakIrit 😂

Karena menurut saya, hidup tanpa (banyak) nasi merupakan prestasi, saya pikir saya harus say thanks langsung ke Mas Erik. Murni saya ngga mengharapkan pesan saya dibalas. Selain karena tahu dia sedang di luar negeri, mau ngga mau saya harus memakai akun jualan untuk kirim pesan tsb (saya tidak punya akun pribadi di Fb). Yang terpenting ybs tahu bahwa usahanya untuk menyebarkan gaya hidup sehat ada yang mengapresiasi.

Walaupun akhirnya dibalas juga sih hehe. Mas Erik cuma bilang ikut senang dan menyarankan saya untuk mengganti nasi putih dengan beras merah, hitam, atau coklat. Karena menurut dia, nasi bukan satu hal yang harus dihindari.

Walaupun saat ini saya belum mampu untuk menjalani Food Combining, dan masih mengkonsumsi beras putih yang dicampur beras merah, namun semoga postingan ini bisa menginspirasi pembaca yang mau menjalani hidup sehat.