About ilivedonce

Because Life Is Sharing!

Liburan Akhir Tahun 2018 Bag. 2 (Lampung-Bukittinggi- Palembang)

Nah, ini adalah alasan mengapa saya dan suami balik duluan ke Jakarta. Karena lagi lagi kami akan tes mobil baru Ipar dari Suami keliling Sumatera. Ya kalo tahun 2018 kakak & kakak ipar punya mobil baru, semoga 2019 giliran kita. Ada Aamiin disini?

Jadi, kalau keluarga Kakak Suami tidak ada rencana Pulang Kampung, kami berencana baru akan balik ke Jakarta setelah Tahun Baru. Kenyataannya, jam 07.30 pagi kami tiba di Terminal Pulogebang dari Malang, packing lagi dan beberes sebentar, berangkat ke rumah Ipar di Jatiasih, untuk kemudian lanjut ke Merak sehabis Jumatan menuju Bukittinggi.

Hari 1 (Jumat, 28 Des 2018)

Berhubung saat itu Gunung Krakatau dan Tsunami masih jadi isu hangat, kami berencana menyeberang kapal sebelum gelap.

Tarif Penyebrangan Ferry Merak – Bakauheni 2018

Kapal masih ramai seperti musim Liburan biasa. Sayangnya saat berangkat kami dapat kapal yang tidak terlalu bagus dan sudah tua. Ruang VIP tidak terasa dingin, sehingga kami pilih duduk di bangku biasa. Apesnya lagi, ada hiburan Dangdut yang hingar bingar tanpa keahlian suara yang mumpuni. Beberapa penyanyinya malah memaksa pengunjung lelaki untuk karaoke sekaligus nyawer. Kalau boleh usul, yang seperti ini lebih baik dihapus saja. Karena bikin penumpang lain ngga nyaman, dan banyak anak kecil yang menyaksikan.

Perjalanan cukup lancar, walau sesekali ayunan ombak kami rasakan. Sesampainya di Lampung, kami bergegas ke RM Begadang V untuk makan malam.

Ayam Goreng Talua yang tersohor

Kalo ke Lampung, suami pasti ngga bakal absen makan Ayam Goreng Telur ini. Sebenarnya ini hanya Ayam Goreng ungkep, yang sebelum digoreng dibalut kocokan telur. Tapi ada rasa jejak gurih khas yang bikin istimewa.

Hari 2 (Sabtu, 29 Des 2018)

Masih di jalan, dan sejujurnya hamba yang orang Jawa udah berasa kapok! Kaki bengkak, muka kucel, badan pliket campur aroma 7 rupa belom sampe juga. Berhubung tempat makan sedapetnya dan ngga ada yang istimewa, jadi ngga saya masukin ke Blog.

Inget ya, usahakan dalam sehari itu makan minimal satu jenis makanan mentah. It’s good for your healthy 🙂

Sempet makan di RM Palembang, dan seneng banget nemu lalapan mentah. Secara mostly makan di RM Padang yang minim sayur

Hari 3 (Minggu, 30 Des 2018)

Akhirnya kita hampir memasuki wilayah Padang, sempat singgah makan dulu di RM Gunung Medan.

Umega Group ini salah satu tempat makan pemberhentian Bus Lintas Sumatera. Ngga heran walaupun larut malam masih tetap ramai.

Akhirnya sampe juga di Kampung Suami; Desa Surau Gadang

Setelah beristirahat, kami lalu sarapan di Kedai Nasi Ni Ir, yang sudah ramai sebelum jam makan siang.

Kedai ini spesialis Talua Barendo, Telur Dadar Padang yang digoreng dalam minyak banyak dan panas, sehingga menghasilkan pinggiran telor keriting bak renda.

Penampakan Talua Barendo. Saya pribadi sih lebih suka Dadar yang tebel ginuk ginuk. Yang ini nyaris udah ngga ada telornya lagi 😦

Sempet ngintip dapurnya & liat proses pembuatan Telor Berenda

3 piring ini the bestnya. Sambal hijau pake bawang merah segar, Pepaya Jepang rebus & Jengkol Balado

Sejujurnya, cuma di Sumatera Barat saya makan Jengkol. Karena Jengkol disini tuh enak, bebas langu, dan beneran kaya makan kentang versi ‘padet’. Tapi dari semua Jengkol yang saya makan selama disini, Jengkol di Ni Ir yang terbaik.

Kemudian kami mengunjungi tempat wisata pertama, Taman Panorama & Lobang Jepang.

Harga Karcis Taman Panorama & Lobang Jepang 2018

8 atau 9 tahun lalu pertama kesini pagi banget, dan menjumpai banyak Monyet berkeliaran. Hari ini ngga satu pun yang nampak

Buat yang mau ke Taman Panorama & Lobang Jepang, Bukittinggi, periksa lebih teliti lagi ya karcisnya. Jangan mau kalau dapet karcis bekas, dan harus langsung tukar atau minta yang baru.

Setelah menjelajah Goa Jepang, kami menuju ke Ngarai Sianok.

Sempet beli Kepiting Goreng disini. Bumbunya enak!

Makan malam kami di Nasi Goreng Indah Sari, Simpang Bukik.

Walaupun rame dengan orang lokal, entah kenapa di lidah saya masakan disini agak hambar. Dan saya kurang suka tekstur Mie nya yang besar.

Hari 4 (Senin, 31 Des 2018)

Brunch hari ini Pongek Situjuah, Payakumbuh. Rumah makan yang luas dan ramai ini terkenal dengan Ikan Bakarnya.

Percayalah, ngga ada lagi Ikan Bakar dengan bumbu enak seperti ini

Disediakan Kalender gratis buat pengunjung

Sehabis makan, lalu kita menuju Kelok 9 untuk berfoto.

Setelah itu kita lanjut ke Harau. Sebenarnya saya malas mengulas soal ini, karena Harau yang sekarang menurut saya malah jadi semrawut. Dipenuhi banyak spot spot selfie yang justru merusak keindahan alamnya. Bahkan, saya sempat melihat ada penyewaan kostum Korea lengkap dengan background khas winter. Err..

Di sosmed juga banyak yang menyayangkan hal ini sih, tapi konon kabarnya lahan tsb adalah properti pribadi.

Saya amati di Sumatera Barat banyak tempat wisata baru yang menjual spot Instagramable. Mungkin eranya memang seperti ini ya, semoga tahun ini dan selanjutnya keindahan alam tetap dijaga dari polusi wisata.

Untuk makan malam, karena kehabisan Mak Syukur, kami akhirnya makan Sate Padang di Sate Biaro Nan Lamo.

Mumpung di Padang, makan keripik balado sepuasnya

Setelah istirahat sejenak di rumah, kami menghabiskan malam tahun baru di Jam Gadang.

Jam Gadang saat kami disana, masih ditutup untuk umum karena renovasi. Nantinya akan dilengkapi air mancur, lampu lampu, dan pusat aktifitas lainnya.

Memang tidak ada acara apa pun yang digelar pemerintah setempat dalam menyambut Tahun Baru. Warga hanya ramai berkumpul di area Jam Gadang. Bahkan, waralaba sekitarnya pun sudah menutup tokonya sebelum jam 12 malam.

Hari 5 (Selasa, 1 Jan 2019)

Sarapan pertama kami di 2019 adalah Pical Sikai.

Yang juara disini adalah bumbu Gado gado dan Lupisnya.

Sehabis sarapan, kita berkunjung ke Istana Pagaruyung.

Di dalamnya berisi Museum tempat peninggalan sejarah & Baju Adat yang bisa disewa

Terakhir kesini, saya hanya bisa foto foto di luar. Waktu itu, Istana Pagaruyung ditutup untuk renovasi paska terbakar disambar petir.

Makan malam kami adalah Sate Padang Saiyo, yang letaknya persis disebelah Sate Mak Syukur yang lagi lagi sudah habis.

Kuahnya light, kari-nya ngga terlalu tajam

Yang juara disini, Opak Pedas & Jangek Jumbo

Malamnya, kami sempat hunting Durian yang dijajakan memakai mobil di Pasar Bawah.

Duren Medan emang juara deh

Hari 6 (Rabu, 2 Jan 2019)

Kali ini sarapan di Ayang Pical, yang letaknya tidak jauh dari Pical Sikai sebenarnya.

Saya pribadi lebih suka Pecal Ayang, karena menunya lebih komplit. Dan Katupek Sayurnya sudah siap dari pagi. Tapi menu yang rekomen disini adalah Nasi Sup. Nasi Sup lebih mirip Sup Daging sebenernya. Kuahnya bening segar, dan isiannya pun komplit dan melimpah.

Tujuan wisata hari ini adalah Danau Maninjau. Menuju kesana melewati kelok 44 yang fenomenal itu. Alhamdulillah saya survived tanpa jackpot. Pertama kali kesini, semua orang di Bukittinggi bilang ngga ada orang yang ngga muntah kalo melewati Kelok 44. Nyatanya biasa aja tuh, malah saya sukses tidur pulas.

Cuma sebentar disini, karena tempatnya biasa aja dan sepi. Wisata berikutnya adalah Lawang Park.

Lawang Park ini saya rekomendasikan, karena pemandangannya bagus banget. Apalagi belum terpolusi sama spot selfie buatan manusia. Hasil berfoto disana dijamin backgroundnya seperti lukisan. Dan begitu tempat itu mulai ditutupi kabut, pemandangannya beneran kaya negeri di atas awan.

Sempet makan siang disini, dipilih karena sudah laper dan nemunya ini.

Setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju Padang. Mampir sebentar untuk belanja oleh oleh di Cristine Hakim.

Sempet beli Bumbu Rendang instan buatan lokal yang lumayan otentik

Lanjut untuk ngemil sore di Ganti Nan Lamo.

Iko Gantinyo seberangan sama Ganti Nan Lamo

Waktu kita tanya sama Tukang Parkir mana yang aseli, disebut Ganti Nan Lamo. Dan memang restonya lebih ramai sih.

Daftar Menu & Harga Ganti Nan Lamo 2019

Es Durian nya hadir dengan Duren yang sudah di blender lembut. Padahal lebih suka tekstur duren aslinya. Menurut saya malah lebih rekomen Pempek Palembang nya. Platingnya paling bagus dari semua Pempek yang pernah saya makan. Ikannya berasa, cukonya mantap, dan porsi besar bisa untuk 2 orang. Ponakan juga pesan Sate Padang, dan menurut dia rasanya manis.

Malamnya sempat naik ke Jembatan Siti Nurbaya yang ternyata biasa aja. Setelah itu kami kembali ke Bukittinggi.

Hari 7 (Kamis, 3 Jan 2019)

Sarapan kami dijamu oleh kerabat Suami. Sesuai tradisi, jika ada yang datang ke Kampung, semua kerabat akan mengundang makan ke rumah.

Jamuan Makan ala Lesehan

Setelah itu kami ke Pasar Atas membeli oleh oleh. Singgah juga di Kapuyuak yang menjual kaos dengan tulisan humor khas Minang.

Sungguhlah kami ngga nyesel belanja disini. Bahannya enakeun, harga juga ngga terlalu mahal. Desainnya juga macem2 dan simpel.

Malamnya kami hunting Oleh oleh lagi di Payakumbuh, yang ternyata harganya hampir 3x lipat lebih MURAH dari yang dijual di toko Oleh Oleh terkenal.

Enaknya lagi, kalau beli banyak bisa langsung dikirim via Kargo dari Toko. Saya menggunakan Kargo ‘AWR’,karena sudah langganan dan lokasinya dekat dengan tempat kerja. Untuk pengiriman ke rumah, bisa juga menggunakan Indah Cargo.

Makan siang, makan malam dan sarapan kami esok hari masih keliling di rumah Saudara Suami. Sebagai wanita Jawa saya hanya berdoa, semoga Tuan Rumah diberi kelapangan rezeki karena sudah menyediakan makanan komplit untuk banyak orang.

Hari 8 (Jumat, 4 Jan 2019)

Sarapan kami hari ini di rumah kerabat ada kejutan karena Tuan Rumah menyediakan Mie Instan disamping lauk Padang lainnya. Yang tentu saja disambut gegap gempita oleh kami yang merindukan.

Rencananya, sehabis Jumatan kami akan bertolak ke Palembang untuk bermalam sehari.

Untuk bekal di jalan, kami sudah membungkus Nasi Kapau Uni Ca.

Bungkusannya besar dan khas (DD for Dendeng Batokok)

Sampai di Palembang sore hari, dan kita langsung menuju Hotel Batiqa untuk check in.

Hotel Batiqa adalah Hotel Bintang 3 di pusat kota Palembang. Letaknya strategis, dekat dengan minimarket, sebelah persis adalah RM Padang yang buka sampai malam, sederetan dengan Pempek Candy dan resto Pempek rumahan. Walaupun tidak ada fasilitas Kolam Renang, tapi wifi cukup lancar.

Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami keluar untuk makan malam di Pindang Musi Rawas.

Srikayanya juara!

Walaupun yang terkenal Pindangnya, namun saya lebih suka Pentol Gabus dan lalapannya. Bahagia rasanya ketemu sayuran mentah segar beraneka macam, yang unik bahkan disajikan Jantung Pisang rebus dalam lalapannya.

Malamnya kami tutup dengan mengunjungi ikon Palembang.

Bahagianya warga Palembang, punya tempat berkumpul dan sarana melepas stress yang murah meriah.

Hari 10 (Sabtu, 6 Jan 2019)

Hari ini dimulai dengan brunch di Pindang Sophia setelah kemarin kehabisan.

Yang jadi rebutan disini adalah menu Lobsternya.

Banyak menu sayurannya juga disini. Untuk harga Lobster berkisar 90rb – 120rb tergantung ukuran.

Lanjut untuk mengunjungi Masjid Cheng Hoo yang menurut saya ‘girly’ karena warnanya didominasi Pink.

Setelah itu kami menjajal LRT. Kami naik dari Stasiun Bumi Sriwijaya yang lokasinya di area Palembang Ikon.

Untuk naik LRT Palembang, harus menggunakan e-money dengan tarif 5rb/trip. Tujuan kami adalah Stadion Jakabaring.

Situasi LRT saat weekend lumayan ramai oleh penduduk lokal. Di stasiun dan beberapa gerbong udaranya cukup ‘hangat’. Mungkin karena AC tidak cukup menghalau cuaca panas dari luar.

Cuaca terik juga yang membuat kita membatalkan kunjungan ke Stadion Jakabaring. Apalagi ternyata letaknya cukup jauh dari Stasiun.

Setelah kami balik lagi ke Mall Palembang Ikon tempat mobil diparkir, maka dimulailah wisata kuliner Palembang kita.

Perhentian pertama adalah Pempek Saga Sudi Mampir.

Lanjut ke Pempek Vico, yang terkenal karena Es Kacang Merah dan Cukonya yang mantap. Disini kami hanya take away Esnya dan beli oleh oleh Pempek.

Kemudian dilanjutkan makan Mie Celor.

Kami sempat membeli Pempek Dos di Pasar Ilir untuk Oleh oleh. Dan tak lupa kami mencicipi Martabak Har.

Menurut saya harga makanan di Palembang lumayan mahal. Martabak Spc Daging Har dihargai 65rb, walau memang rasanya enak banget.

Sekitar jam 23.30 kami mengarah ke Lampung untuk kemudian pulang ke Jakarta.

Hari 11 (Minggu, 7 Jan 2019)

Tiba di Lampung sekitar pukul 09.45, sebelum menyeberang kapal, kami sarapan dulu di Bakso Sony.

Menurut saya Baksonya biasa aja ya, malah cenderung kasar. Mie Ayamnya enak, tapi porsinya kecil sekali.

Demikianlah petualangan dan pengalaman wisata dan kuliner saya di Sumatera. Semoga bisa menjadi referensi anda dalam merancang perjalanan.

Advertisements

The Grief

When I lost my father. Everything’s changed. I am no longer who I am.
Its like carrying a pain in a deep soul for a life time. And there’s no way to heal it. Even small things could lead to memories about him.
When He passed away, I was shocked that death was that near. It makes me think the world is no longer that worthy.
I used to have a lot of things to be asked. So I read different prayers in my last sujood. But the only thing to read is only for my Parents, now. I couldnt ask for more. God already gives me more than I could possibly get.
Dear God, Thank YOU for this beautiful ending. Thank YOU for choosing Jumuah for him. Thank YOU for the time we spent together in his last time.
Alhamdulillah.

Liburan Akhir Tahun 2018 Bag.1 (Dieng-Solo-Bangkalan-Surabaya-Pasuruan-Malang)

Selamat Tahun Baru 2019 pembaca ku tercintah! Semoga tahun ini blog yang sedang anda baca makin berkualitas, baik dari segi tulisan maupun pembahasannya yang informatif.

Sebenernya saya lebih suka nulis review tempat baru, liburan, atau tujuan wisata. Tapi setelah dianalisa, lebih banyak orang search tentang informasi kosmetik kesini. Padahal review kosmetik dikiiiit banget, karena dasarnya males dandan dan perawatan kulit basic pun.

Anyway, akhir Desember kemarin saya dan keluarga besar saya sepakat menghabiskan libur akhir tahun di Jawa Timur, sekalian jajal jalan tol yang baru diresmikan (beberapa bahkan masih gratis). Nah kenapa ada bagian 1, nanti kita bahas ya!

Hari 1 (Sabtu, 22 Des 2018)

Start perjalanan dari rumah di Jakarta Timur. Kakak saya sekeluarga udah nginep dari semalem. Subuh kami sibuk di dapur nyiapin Mie Goreng instan buat bekel di jalan, karena tahu banget Tol Cikampek udah pasti macet di musim libur begini. Dan rencana bakal makan di Tegal, yang artinya bakal siang (banget) kalo macetnya parah.

Total semobil 4 dewasa & 2 anak, sekalian tes drive mobil baru kakak saya nih ceritanya. Sesuai prediksi emang macet banget, dan kita sampai di Sate Wendy’s Mendo, Tegal sekitar jam 12.30 siang.

Kalo suatu RM udah bisa ngasih seragam ke pegawainya, udah pasti omzet bukan masalah lagi

Ini kunjungan kedua kami kesini, karena suami jatuh hati pada tusukan pertama (Errr…). Di Sate Wendy’s Mendo ini cuma ada menu kambing ya gaess, jadi jangan gambling ajak orang yang ngga doyan mbek. Menunya pun simpel; Sate, Sop & Gulai. Semuanya enak, satenya khas pake hotplate dengan potongan besar tapi empuk tanpa prengus. Harga pun murah.

Condiment bawang & tomatnya segerrr

Kali pertama kesini jam 8 malem udah habis semua. Tapi mereka ada dua lokasi yang berdekatan. Jadi kalau satu tutup, tanya aja arah Wendy’s Mendo yang satunya.

Tujuan pertama kami adalah Dieng, sesuai request para ponakan yang penasaran sama dinginnya Dieng. Karena tiba udah sore banget, kami cepat2 ambil foto mumpung belum gelap. Dan karena sudah hampir Maghrib, kami memutuskan untuk makan malam disana. Oya, walaupun tempat wisata, harga makanan disana masih standar kok.

Kentang Goreng Dieng

Ada Jalapeno (Cabe Gendot) dan Jamur yang seger2 banget. Jadi pengen ngetok rumah penduduk pinjem teflon buat bikin pizza

Kalo berkunjung ke Dieng, jangan lupa beli olahan kentangnya ya. Kentang Dieng terkenal karena memiki kandungan air yang sedikit. Cocok buat dijadiin french fries dan keripik. Keripik kentang Dieng wajib coba, rasanya enak banget beda sama buatan pabrik.

Kelar berwisata di Dieng yang makin malam makin dingin, lanjut perjalanan kita ke rumah orangtua di Solo. Dalam perjalanan menuju Solo, ada kejadian yang bikin kita sempet deg deg-an. Jadi untuk menuju Solo ada 2 pilihan rute; yaitu lewat jalan besar atau short cut memutari bukit. Nah karena ipar pilih jalan alternatif yang pendek, jadilah kita bermobil di jalan sempit yang diapit gunung.

Sebenarnya walau jalan gelap gulita dan tertutup kabut, namun masih ada beberapa mobil yang lewat. Namun, di tengah perjalanan sinyal bensin menyala. Karena tidak mau menempuh resiko kehabisan bensin di atas gunung, kami sepakat untuk putar balik ke jalan ramai yang lebih mudah buat cari SPBU.

Sampai Solo sekitar jam 22.30 malam, dan kami langsung tidur lelap.

Hari 2 (Minggu, 23 Des 2018)

Paginya kami cari sarapan nasi liwet di CFD Solo. Sempet hunting jajanan unik juga, kaya Sate Cumi Bakar ini.

Niatnya cari makanan yg lg hits ini di Surabaya, ndilalah di CFD Solo udah ada. Antri rame bgt. Buat yg nebak kuning2 di tengah itu keju atau telor salah ya, yang bener bakso udang

Siangnya kami berempat (Saya, kakak dan suami kami) pergi ke PGS. Lumayan nemu daster lucu di Kencana Ungu. Kencana Ungu ini merk favorit kalo ke Solo. Bahannya adem, modelnya simpel, dan ngga pernah luntur dicuci. Padahal harga ngga mahal juga.

Malamnya, kami ke mandatory food kalo ke Solo, yaitu Susu Shijack. Walaupun Nasi Kucingnya biasa banget, tapi kami suka susu aneka rasanya.

Kelar makan, kita pulang langsung tidur karena besok pagi lanjut ke Surabaya.

Hari 3 (Senin, 24 Des 2018)

Pagi banget kita jalan dari rumah, mampir dulu di depan UNS untuk sarapan Nasi Liwet.

Sebelum ke Surabaya, kami berencana singgah dulu ke Bangkalan, Madura untuk makan siang di Bebek Sinjay. Sekalian merasakan nyebrang di Jembatan Suramadu yang kini tidak berbayar, alias gratis.

Paket Bebek Sinjay 27k

Kalau mau foto di Suramadu & makan bebek Sinjay, lebih baik foto saat pulangnya aja. Karena beneran deh, Bebek Sinjay kalo kita kesiangan dikit macetnya udah dari jauh. Pas kita kelar makan, kaget juga karena antrian orang yang mau cari parkir udah panjang banget. Belum lagi cari meja yang sesuai dengan jumlah rombongan, harus jeli dan sabar.

Sistem makan di Bebek Sinjay juga butuh perjuangan sendiri sih. Dari awal kita bakal antri untuk pesan & bayar di kasir, ambil makanan, lalu ambil minuman. Semuanya di counter yang berbeda, dan semuanya ngantri parah. Jadi kalau rasanya mau nambah nasi atau minum, mending pesan sekalian di awal.

Oya, kita beli paketnya sebesar 27rb yang terdiri dari Nasi, Sambal Mangga, Timun, Bebek Sinjay (ngga bisa milih potongan), dan air minum (es kelapa gelas, es teh, air mineral, atau teh botol). Kalo mau minum kelapa bulat itu beda lagi counternya.

Bebek Sinjaynya yang pasti empuk dan enak. Di luar dugaan, sambel pencitnya buat saya ngga pedes pedes amat kok. Malah bikin tambah lahap makannya.

Kelar makan, kita naik Jembatan Suramadu lagi menuju Surabaya. Kali ini langsung menuju Quest Hotel untuk istirahat. Sementara saya dan ponakan pilih langsung berenang mumpung cuaca agak mendung. Tapi di Quest Hotel, kolam renangnya sebagian ada yang model tertutup ternyata.

Kamarnya simpel & ringkes dengan nuansa ungu

Habis renang, dan lapar, kami memulai perjalanan kuliner kami di Surabaya. Tujuan pertama adalah Alpukat Kocok Medan, yang diincer suami sejak nonton Vlognya Magdalena di Medan.

Semua pesennya Pukcok Milo yang rasanya ngga manis, apalagi pas esnya mencair, bahkan cenderung pahit. Sepertinya yang Original lebih enak, karena pake gula merah cair. Kakak saya sekeluarga sempet makan bakso yang jualan deket situ, menurut dia sih enak.

Lanjut lagi ke Jasuke Mozarella permintaan ponakan yang dijual di parkiran Alfa. Namun sayangnya nyampe sana outletnya tutup. Akhirnya kita lanjut buat makan malam di Warung Mapan.

Warung Mapan ini terkenal karena take away nya yang unik. Sekaligus dengan cobek tanahnya, yang dikemas di kotak box tebal layaknya pizza.

Rasanya sih sebenernya standar aja, sayang sambelnya kurang pedes (agak manis malah). Tapi harga lumayan ekonomis, dan isian paketnya komplit walaupun cuma sedikit2.

Kelar makan malam, berhubung masih kenyang, kami berniat untuk take away Batagor yang katanya legendaris, Batagor Budi Mulia. Lumayan buat cemilan di hotel sebelum tidur.

Pesen 2 porsi isi Siomay & Siomay Goreng (Batagor) yang baru digoreng panas panas. Lebih enak Batagornya memang, yang siomay mungkin karena ngga langsung dimakan jadi agak keras.

Hari 4 (Selasa, 25 Des 2018)

Memulai pagi dengan sarapan di Lobby, walaupun tempatnya kecil namun makan pagi di Hotel Quest cukup lengkap.

Suasana breakfast di Hotel Quest, di sisi kanan ada area Outdoor untuk yang merokok dan Omelet Station

Selalu memulai makan pagi dengan salad sayur & buah (kalo di hotel ajah)

Yang unik ada Sup Biji Biji dari Maluku, isiannya sop biasa ditambah singkong

Sehabis sarapan rencananya saya, Ibu, Kakak diantar suami berburu oleh2 di Pasar Atom. Namun saat kesana ternyata pasar sepi, mungkin tutup karena hari ini Natal. Akhirnya kami menuju Depot Bu Rudy.

Sampai sana sudah banyak orang yang sarapan di Bu Rudy. Dan memang nyesel juga sarapan di hotel, karena Nasi Bakar Cumi Hitamnya menggoda sekali. Selain makanan berat, di Depot Bu Rudy juga menjual jajan pasar dan penganan yang banyak sekali macamnya. Yang saya baca rekomen disini adalah Donat Kentang & Bingka. Dan tentu saja Sambel Bu Rudy + Udang goreng, serta oleh2 khas Surabaya bisa dibeli disini.

Ngga jauh dari Depot Ibu Rudy juga ada toko yang menjual Almond Crispy terkenal itu. Disana kami juga sempat beli Kue Soes kering isi coklat yang enak. Sebenarnya kami sempat mampir di toko Finna Kerupuk Udang, sayangnya mereka tutup di Hari Natal.

Kelar belanja oleh2, kami istirahat sebentar untuk kemudian check out dari Quest Hotel.

Kesan saya untuk Surabaya sebagai first timer, salut Surabaya trotoarnya rapi dan bersih dari PKL. Sentuhan wanitanya terasa sekali di kota ini. Proud of you Bu Risma! Sayangnya beberapa kali saya sempet dapet pengalaman kurang enak sama warganya. Beberapa kali diusir karena parkir di depan ruko mereka yang sudah tutup.

Baiklah, perjalanan kami lanjutkan lagi menuju Malang via Tol. Nah karena berencana mampir ke Wisata Panci yang terkenal dengan perabot dapur murah, kita keluar di Tol Pandaan yang masuk wilayah Pasuruan. Ngga jauh dari exit tolnya, ada yang namanya Taman Dayu dari Grup Ciputra. Gerbang masuknya mengingatkan saya akan komplek2 di Cibubur. Karena sudah jam makan siang, kami makan dulu di Food Courtnya.

Wisata Panci Pandaan ini terletak di gang perumahan penduduk yang berisi toko toko yang menjual peralatan dapur rumahtangga maupun skala catering.

Auto kalap *lirik suami dan ipar* para lelaki yg juga nimbrung belanja

Cobek penyet buat properti platter

Nah disini sempet ada kejadian seru. Jadi udah kelar belanja, dan lagi di tol menuju Malang, kakak saya baru sadar kalau tasnya tertinggal di Pandaan. Dicoba telpon dan sms tidak ada jawaban. Langsung putar balik lah kami ke Wisata Panci, dan 40 menit berlalu tasnya pun sudah raib.

Setelah memastikan tidak ada laporan penemuan tas, kami berbagi tugas. Saya dan suami cek cctv toko di area toilet, ipar dan kakak saya mencoba melacak ponselnya menggunakan aplikasi Find My Device. Untuk bisa melacak, syaratnya harus menggunakan email android HP yg hilang, dan ponsel masih dalam keadaan hidup.

Saat itu ponsel diketahui masih di area Taman Dayu, ipar & suami langsung menuju kesana dengan pinjeman motor dari orang toko. Namun tak lama mereka balik lagi, karena GPS bergerak ke arah tol. Langsung pengejaran dilakukan dengan mobil, sambil ipar saya terus menerus memperhatikan pergerakan ponselnya.

Singkat cerita, tas kakak beserta isinya utuh, berhasil kami temukan setelah 3 jam berada di tangan orang lain. Rasanya ngga percaya kehebatan teknologi bisa membantu kita menemukan barang yang hilang.

Hampir larut malam begitu kami tiba di Malang, karena lelah fisik & mental kami langsung beristirahat di Guest House yang sudah kami booking, Augustine Home.

Hari 5 (Rabu, 26 Des 2018)

Augustine Home banyak direkomendasikan oleh Travel Blogger, karena salah satu guest house murah di Malang yang lokasinya strategis dengan bangunan unik. Lay out kamarnya pun lucu. Augustine Home juga ngga jauh dari Malang Town Square (Matos). Bahkan dengan jalan kaki di sekitaran, kita udah ketemu Taman Merbabu (ada playground), Hutan Kota Malabar, Pasar Modern, Dapur Coklat, Oleh oleh A6, dan Signora Pasta.

Banyak yg olahraga pagi di Taman Merbabu

Selain itu, bila membawa orang tua lebih cocok menginap di tempat yang tidak terlalu besar, karena suasananya masih kekeluargaan. Contohnya, kalau suami saya keluar merokok malam2, ada saja petugas yang menawari kopi. Pernah juga ayah saya yang sudah pikun keluar kamar sendiri, dan langsung dilaporkan oleh Security. Begitu saya susul, ternyata Pak Security ada di belakang untuk memastikan ayah saya sudah ditemukan. Namun jika membawa orangtua atau banyak bawaan, mintalah kamar di lantai dasar karena mereka tidak ada lift.

Selain itu minusnya cuma satu, sarapan pagi di Augustine Home dimulai pukul 7 pagi. Sementara Ayah saya yang lansia biasa sarapan tepat jam 6. Dan lagi, untuk yang jadwalnya padat, sarapan jam 7 sudah agak kesiangan.

Oudoor dining area (spot favorit kita buat sarapan)

Ruang tamu

Tempat tidurnya langsung menghadap pintu kaca

Mengawali hari dengan sarapan yang sudah disiapkan per porsi. Selama 2 hari disini menunya berganti. Hari pertama kami makan Soto Ayam, besoknya sarapan kami Nasi Pecel. Semuanya enak lho!

Menu sarapan hari ke 2; Nasi Pecel

Dining room indoor

Nonton tv sambil pijet kaki

Acara hari ini adalah pergi ke Wisata Batu Argo Apel, Malang.

Sempet beli bibit apel disini

Di pinggir jalan kita juga sempat mampir beli oleh2 khas Batu, Malang. Apel Malang yang murah banget (inget ya, justru yang warnanya merah asem), dan Sari Apel yang manisnya pas.

Tujuan kita selanjutnya adalah kunjugan wajib kalo ke Malang, yaitu Bakso President.

Rel kereta yang masih aktif. Ngeri2 sedap lho karena banyak yang hilir mudik, selfi2, nongkrong & bercanda

Daftar Menu & Harga Bakso President

Bakso Campur Hemat. Sengaja pesen minimalis, masih banyak list kuliner soalnya

Bakso President ini selalu rame & antri. Walaupun tempat duduknya panjang berderet & sempit tetep aja kurang. Untuk pesan pun harus antri panjang, jadi sebelum kesini sebaiknya udah tahu mana yang mau dipesen & ditambah. Tuh, diatas saya fotoin menu & harganya. Karena setelah pesan & bayar, nunggu bakso malang nya dateng pun agak lama.

Sekarang giliran hunting oleh2 di Lancar Jaya. Ini keripik tempenya banyak yang rekomendasiin. Ngga heran sering kehabisan karena rame banget, kalo bisa dateng pagi ya. Lancar Jaya juga menyediakan Oleh oleh lain khas Malang, bahkan Teh Naga juga bisa dibeli disini. Teh Naga bisa jadi pilihan oleh oleh, karena cuma ada di Malang. Wangi & sepetnya juga pas.

Tepat di seberang Toko Lancar Jaya, ada Toko Kue legendaris di Malang; Gaya Baru.

Sayang karena sudah sore, banyak yang sudah habis

Kelar belanja, kami lanjut ke destinasi kuliner berikutnya, Bakso Bakar Pak Man.

Yang unik disini bihunnya berwarna kebiruan

Nah sistem makan di Bakso Bakar Pak Man ini unik. Untuk Bakso Bakarnya kita pesan terpisah, namun untuk bakso kuah self service, alias ambil & racik sendiri. Untuk Bakso Bakarnya agak alot, dan saya kurang suka bumbunya. Bakso kuahnya pun lebih enak President.

Setelah makan, kami kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak. Sorenya, saya dan suami berjalan kaki menuju Signora Pasta. Seneng disini ada Signora, secara di Jakarta pe er banget kalo harus ke Cirendeu buat makan doang. Oya, pas jalan kaki, lihat ada penjual Lontong Kupang gerobakan. Niat hati mau coba, tapi apa daya masih belum berani sama rasanya. Akhirnya cuma bungkus makanan favorit, Sate Kerang.

Kejunya melimpah. Pizza otentik buatan Chef Italia

Pulangnya ada kejadian lucu. Dekat Dapur Coklat saya melihat ada poster A6 milik Ashanty & Aurel di seberangnya. Saya pikir nanti makan malam disitu aja, sekalian icip2 karena belum pernah coba. Wah udah kebayang cumi itemnya. Ngga taunya, pas saya dan keluarga sampai sana Wak Waw….ternyata mereka hanya jual Cake Oleh2! Waduh mana tahu saya kalo mereka juga jualan Cake Kekinian.

Akhirnya balik ke penginapan untuk ambil mobil. Tujuan awal sih ke Nasi Buk Matirah dekat Stasiun. Eh sampai sana tutup. Niatnya mau lanjut ke Mamah Sum Gendut di Jl. Ciliwung, apa daya ipar malah berhenti di Warung Mbok Ndower .

Murah & enak sih, tapi makanan yang di menu beda begitu order. Di menu cumi polos yang dateng cumi goreng tepung crispy. Hiks!

Tempatnya padahal bagus & luas, pilihan menu juga banyak dan enak enak. Tapi harganya masih murah banget.

Kelar makan kita kembali ke penginapan untuk melepas lelah.

Hari 6 (Kamis, 27 Des 2018)

Pagi banget, kami berempat (saya, kakak dan suami masing2), berjalan kaki ke Pasar Oro Oro Dowo. Pasar Modern dekat penginapan kami di Augustine Home.

Niatnya mencari oleh2, dan cemilan bekel saya & suami untuk di Bus dalam perjalanan pulang ke Jakarta siang nanti. Tapi ternyata belum banyak kios yang buka.

Akhirnya disini saya hanya membeli Emping Malang, dan cemilan Tahu Berontak yang sepagi itu kios gorengannya sudah ramai diantri pembeli.

Untunglah, di pintu keluar saya menemukan penjual Nasi Buk Madura yang saya langsung minta untuk dibungkus kering (tanpa sayur kuah).

Nyesel cuma beli seporsi, ternyata enak!

Kelar dari Pasar, kami langsung sarapan di penginapan. Untuk dessertnya, kami sempat mencicipi Queen Apple; Kue Oleh Oleh nya Farah Quinn yang dibeli Ibu saya, dan memang enak lho!

Rasa Original & Coklat

Kami sempat tidur sejenak sebelum waktunya Check out dan menuju Terminal Arjosari. Sebelumnya, kami sempat mampir dulu di Es Teler Dempo, yang curiga duriannya pake Duren Ucok. Mie Ayam disini ternyata enak lho!

Kami kembali ke Jakarta menggunakan Bus Double Decker dari PO Lorena. Ini pertama kali kami mencoba Bis bertingkat, sekaligus naik bis dengan jarak jauh (sampai puluhan jam).

Makanya, saya sempat khawatir sama bekal perjalanan kami yang hanya seporsi Nasi Buk, 4 slices sisa Pizza Signora, dan 4 potong Tahu Isi. Memang sih, bus akan 2x berhenti untuk makan berat dan sarapan (Pop Mie), tapi naik angkutan bis berbeda dengan kereta yang bisa pesan makanan jika lapar.

Dilengkapi dengan Rest Leg yang cocok untuk perjalanan jauh

Untunglah yang saya takutkan tidak terjadi, dan kami sampai dengan selamat di Terminal Pulogebang, Jakarta.

Akhir perjalanan kami, sekaligus menjadi penutup Bagian 1 Liburan Akhir Tahun 2018. Terima kasih untuk tahan baca panjang sampai habis, semoga berguna buat yang mau jalan jalan juga. Nantikan bagian selanjutnya yang entah kapan *lelah*.

Jurus Kiasu di The Lake House

Berkunjung ke tempat yg lagi happening di long weekend? Siapa takut! Syaratnya harus punya naluri Kiasu biar ngga zonk. Nih, saya kasih tipsnya.

Bermula dari ajakan kakak saya untuk ngajak ortu jalan2 di hari libur tanggal 20 Nov. Rencana awal hanya ber-4 aja. Karena suami kerja, dan anak2 & suami kakak menolak ikut. Tapi begitu saya tunjukin foto2 The Lake House, langsung semuanya mau ikutan. Jadilah peserta total 8 orang di satu mobil.

Menuju Depok sekitar jam 04:30, sampai sana jam 06:00. Tapi baru jalan jam 07:00. Sampe Puncak jam 8:00 masih macet sedikit, sebelum akhirnya distop buat one way yang mau turun.

Nunggu di pom bensin sambil beli cemilan di Indomaret, akhirnya sekitar 08:30 gantian one way yang mau ke arah atas.

The Lake House ini sebenarnya resto yang ada di komplek Villa & Resort. Lokasinya masuk ke arah Taman Safari. Lurus aja sampai nemu pintu masuk Pesona Sedayu di kiri jalan. Sempet lihat tamu hotel anak yang sedang berkuda mengelilingi area, ada juga turis Arab yang diantar mobil Buggy menuju The Lake House.

Kompleknya lumayan luas, dan kita sampai pas jam 09:00, sementara Restonya sendiri buka jam 10:00. Berhubung pengunjung pertama, kita jadi banyak waktu untuk eksplore (baca:foto2) suasana sekitar yang apik dan rindang.

Oya, walaupun resto belum buka, tapi dilarang bawa makanan ke dalam komplek ya. Kami sempat ditegur, karena petugas melihat ponakan yang bosan nunggu dan minta cemilan.

Ngga berapa lama, datanglah sesama pengunjung yang juga antri. Bahkan ada rombongan yang masih menunggu 2 mobil lagi untuk nyusul. Melihat hal itu, suami bergegas menghampiri petugas resto yang lagi preparation untuk booking meja outdoor yang di bawah. Untuk antisipasi, kami antri tepat di depan pintu masuk.

Jam 10 teng, rolling door dibuka. Suami langsung diantar waiter untuk pilih meja. Untuk meja outdoor dengan kapasitas besar, ada minimum tagihan sebesar 500rb rupiah. Dan meja ini hanya ada 2, meja outdoor lain berkumpul di tengah dengan kapasitas 4 orang.

Restoran dengan bangunan bata khasnya ini terbagi atas 3 lantai, namun lantai 3 (Roof Top) ditutup waktu saya kesana. Lantai 1 area kasir, serving, toilet, smoking room, dan ruang makan indoor + outdoor.

Lantai 2 ada area ruang makan indoor + outdoor juga, namun bentuk kursinya yang seperti ruang tamu, bahkan kursi goyang di bagian outdoor, menurut saya lebih cocok untuk tamu yang hanya makan snack.

Dining Room Indoor lantai 1

Dining Room Indoor lantai 2, dengan hiasan Dream Catcher yang Instagramable

Untuk makanan, menurut saya cukup lengkap & enak, dengan platting juara. Harganya pun masih terjangkau dengan view & suasana unik yang memanjakan mata di The Lake House. Rekomen menu disana adalah Nasi Bakar & Pasta (yang porsinya besar). Pelayanan juga ramah dan sigap, walau pengunjung setelah kami harus waiting list.

Smoke Chicken Sandwich

Ayam Ngo Hiong

Pizza American (?), next mungkin mau coba Pepperoni Pizzanya

Caesar Salad & Ayam Geprek (sambelnya rekomen)

Nasi Bakar

Fish & Chip

Overall, kami semua puas dengan kunjungan kami kali ini ke The Lake House. Bahkan ponakan saya sudah menanyakan kapan kesini lagi. Duh, nanti2 ajalah. Nunggu hype nya reda dulu, biar ngga melulu harus pake jurus Kiasu 😂

Review : Rumah Pasta

Review makanan is back!

Berhubung makanan ini layak di rekomendasikan, namun minim info (karena baru buka seminggu juga) jadilah aku mau sharing pengalaman makan disana.

Penampakan kedai

Lokasi outletnya di samping KFC Bulungan, Blok M. Jadi kita bakal makan di area outdoor pinggir jalan alias kaki lima. Tapi jangan salah yaa, dari kualitas masakannya sih bintang lima banget. Kaya apa tuh? Nanti dijelasin deh.

Disini hanya tersedia satu meja yang kira2 cukup buat sekitar 8 orang. Parkir motor relatif lebih mudah, tapi kalo bawa mobil terpaksa harus numpang di halamannya KFC yg sebenernya juga ngga terlalu luas.

Menu saat saya datang baru ada 3 pilihan topping; rendang, udang pedas & ayam. Saya dan suami pesan masing masing rendang & udang pedas.

Untuk menanti pesanan harus bersabar & usahakan jangan dalam keadaan laper berat. Tamu sebelah saya akhirnya pesan Sate Usus di angkringan sebelah, saking udah ngga nahan. Hal itu karena kru hanya 2 orang (ya masak, ya terima order, ya kasir). Dan semua makanan dibikin dari scratch, alias mereka langsung bikin homemade fettucininya.

Jadi inget dulu saya pernah bikin mie sendiri, dipotongnya manual persis kaya gini. Bedanya saya pake penggaris biar lurus 😂

Mulai dari ulenin adonan sebentar, giling adonan & dipotong manual dengan pisau. Setelah itu direbus sampai al dente, baru mulai diolah. Yang bikin saya penasaran mau coba, karena mereka menggunakan mangkok keju parmesan untuk pastanya.

Fettucini yang siap dicampur Keju Parmesan, sementara aroma wangi tercium dari wajan

Pasta pesanan kita hadir di piring plastik hitam dengan topping yang berlimpah, disertai saos sambal sachet. Karena penasaran dengan rasa asli fettucini nya, saya singkirkan dulu toppingnya ke pinggir. Rasanya enak, terasa sekali creamy tanpa rasa blenek yang berlebihan.

Untuk topping rendangnya tekstur agak keras walau enak. Sementara udang pedasnya adalah udang balado yang ngga kalah pedes dari nyinyiran netizen. Alias pedes gila!

Berhubung udah lewat maghrib jadi agak gelap fotonya

Dari hasil ngobrol dengan krunya (yang salah satunya adalah Chef di Restoran Italia), mereka memang mengutamakan bahan yang fresh dan bermutu. Saya juga sempat menanyakan bahan yang digunakan. Selain kuning telur & keju parmesan, mereka juga menggunakan Cooking Cream (yang dipakai untuk menggantikan Fresh Milk, krn malah membuat rasa pasta nya jadi manis). Bahkan untuk melapisi adonan pastanya mereka menggunakan tepung gandum, yang teksturnya mirip susu bubuk.

Yang saya salut, mas nya kasih penjelasan tanpa ada nada sombong atau menggurui, walaupun saya yakin dia pasti sudah berpengalaman di bidangnya. Bahkan ketika suami saya menanyakan mengapa pasta nya tidak dipotong menggunakan alat, dia dengan jujur bilang bahwa adonannya tidak lentur karena kurang telur.

Dengan penjelasan yang diberikan, rasanya total kerusakan 45k jadi terasa murah. Kami pun pamit sambil berjanji akan datang lagi lain waktu dan mendoakan kesuksesan mereka. Walaupun sebenarnya dalam hati berharap di kunjungan kami berikutnya ada pilihan topping standar semacam smoke beef/jamur. Sebab menurut saya rasa pasta yang sudah kuat, lebih cocok dengan topping yang rasanya lebih netral.

Kalimat Ancaman Buat Suami

Sehubungan dengan maraknya peredaran pelakor di sekitar kita, saya yakin banyak istri istri di luar sana yang udah siap siaga.

Nah, apa sih kata andelan kalian kl lg ngancem sang suami?

Saya pernah denger ibu saya mengancam ayah saya akan membakar mobil baru yg dibeli ayah, kalau beliau selingkuh.

Waktu itu sih cukup horor yhaa, secara garasi kita nempel banget sm rumah, dengan satu satunya pintu masuk. Lagian saya nanti kuliah naik apa kalau jadi mobil dibakar? 😂

Lain dengan teman saya, yang menurut saya cukup idealis. Ancamannya ke suaminya bila aneh2 di luaran adalah, akan keluar rumah tanpa mobil & harta. Hanya membawa anak mereka satu satunya dan jangan harap bisa ketemu (anak) lagi.

Sebenernya di kejadian nyata, hal ini pernah terjadi sama tetangga saya. Waktu itu suaminya yang pelaut memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang dokter gigi. Istrinya lalu meninggalkan rumah ke kampung orangtuanya di Cirebon. 4 anaknya kebetulan sudah besar semua (kuliah & Sma), sehingga anak mereka tetap tinggal di rumah mereka.

Walaupun banyak tetangga yang menyayangkan keputusannya (suami yg poligami, tapi dia yang meninggalkan rumah), namun akhirnya berakhir bahagia. Karena beberapa tahun kemudian, suaminya bercerai dengan istri kedua. Dan akhirnya mereka berkumpul lagi layaknya keluarga yg utuh.

Kalo saya pernah mengancam suami dengan kata kata seperti ini, “abang tahu aku licik, shio ku monyet bang. Kl abang nanti nyakitin aku, abang tahu sedang berhadapan dgn siapa”.

Maknyus ngga tuh?

Trus apa reaksi suami?

Biasa aja tuh, kesel deh hahahaha

Trip Gili Trawangan – Lombok 2018

Hai semuaaaa..

(Masih fresh abis liburan, jadi bawaannya ceria 😂).

So, minggu kemaren, tepatnya 23 April lalu, saya & suami AKHIRNYA punya kesempatan libur 4 hari.

Biarpun ‘cuma’ 4 hari, tadinya kita juga maju mundur, jadi liburan atau tetep kerja aja. Yah, walaupun kerja sendiri kan tetep aja sayang kalau nutup.

Beginilah nasib kalau ngga ada karyawan. Fyi, tiket ke Lombok ini dulu kita beli tanpa menghitung dulu kira2 karyawan kami yg lagi cuti hamil udah balik atau belum. Murni beli pas promo buat ngerayain Anniversary kami di tgl 26 April. Dan tyt di tanggal keberangkatan kami, usia anaknya masih 4 bulan ajah 😩. Yang artinya belum bisa ditinggal dong yaa.

Tapi setelah kita pikir, nyaris kerja non stop selama 7 bulan. Apa itu weekend? Apa itu tanggal merah? Apa itu long weekend? Semuanya kita isi buat kerja. Yang lebih kasian sih suami, krn dia ngga ada libur. Sementara saya seminggu sekali ada libur, itu juga terpakai buat ajak ortu jalan & bebenah rumah. Jadi liburan ini akhirnya kita mantapkan hati buat berangkat.

Lombok, embrace yourself!

Senin, 23 April 2018

Jadwal penerbangan kami dengan Maskapai Citilink sekitar pukul 5.45 pagi keberangkatan dari Halim. Dijemput jam 3.15 oleh supir takol (taksi online) temen suami, yg kebetulan rumahnya deketan.

Oya, saya beli tiket promo Citilink ini 9 bulan sebelum keberangkatan. Nah, sebelum pergi saya sempat cek ratenya kalau2 ortu mau ikut, dan cuma beda 200rb ajah sama tiket promo kita. Tapi tyt tiket promo kami punya banyak kelebihan sih. Contohnya, bisa pilih kursi, masuk ke zona green ticket yang lewat garbarata, dan sudah termasuk makan.

Dapet kursi paling depan. Legaaa dan bonus bisa ngamatin tugas2 pramugari. Psst..saya baru tahu cara nutup pintu pesawat ya pas kmr itu hihihi

Free meal ‘Nasi Jinggo’. Biarpun minimalis & nasinya anyep

Pemandangan dari pesawat

Perjalanan cukup lancar, walau pas mau take off Jakarta diguyur gerimis.

Sampai bandara, kami sudah dijemput oleh drivernya Pak Surya. Kami sengaja sewa mobil selama di Lombok menggunakan jasa rental BSA (0878.6584.8111). Pak Surya ini saya rekomendasikan lho, soalnya ngga ribet dan helpful. Walaupun kita kehabisan mobil jenis matic, tapi ya sudahlah, paling suami perlu penyesuaian dikit nyetir mobil manual lagi.

Keluar bandara, kita langsung menuju RM. Cahaya untuk brunch Nasi Balap Puyung.

Letaknya pas di seberang bandara. Langsung kesitu, soalnya nanti pulang penerbangan pagi banget ngga bakal sempat.

Selama di Lombok, cm disini yg plecing kangkungnya pake kelapa parut. Laf!

Setelah tukar mobil (kita dijemput dengan Innova, untuk kemudian ditukar dengan mobil sewaan, Calya) dan melakukan pembayaran. Kita langsung menuju Pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Di Bangsal, kami masuk ke dalam pelabuhan untuk parkir inap, dengan biaya 30rb/hari untuk mobil.

Untuk menyeberang ke 3 Gili (Trawangan, Meno, dan Air), tersedia 3 jenis kapal. Kapal Kayu (Public Boat), Fast Boat & Private. Pelabuhan Bangsal hanya melayani Public & Fast Boat.

Jika anda pergi secara rombongan, lebih efisien jika menggunakan Private Boat, yang memiliki pelabuhan sendiri. Namun jika anda tipe petualang dan langsung menuju Gili Trawangan, bisa mencoba Kapal Kayu (Public Boat) seharga 15rb/pax. Namun harus menunggu kuota 40 orang dulu baru berangkat.

Saya dan suami memilih naik Fast Boat yang cukup nyaman. Kapal berhenti dulu di Gili Air, Meno, lalu lanjut ke Gili Trawangan.

Sampai di Gili Trawangan, hati saya langsung hangat. Selain akhirnya bisa menginjak pulau yang air lautnya bening tosca, saya merasa seolah ngga berada di Indonesia, karena lebih banyak bule bikinian berseliweran. Pokoknya langsung saya rekam video dan upload ke IG dgn caption ‘Island Lyfe’ (ciyeeeeeh).

Karena sudah jam makan siang, kami langsung menuju ke Warung Ibu Dewi yang ngga jauh dari harbour.

Ayam Taliwang & Cah Kangkung

Selama di Gili Trawangan, kami menginap di Hotel Aston, yang terletak di ujung Pulau. Namun, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana ketimbang naik Cidomo. Sekalian bakar kalori dan eksplore Gili Trawangan.

Sesampai di Hotel, kami istirahat sebentar lalu langsung meminjam sepeda untuk keliling pulau. Salah satu fasilitas yang diberikan Aston adalah sepeda gratis. Hal itu sangat memudahkan kami dari segi transportasi. Aston kami rekomendasikan karena selain wifi yg kencang (bahkan masih menjangkau di tepi pantainya), Club Beachnya yang merupakan posisi terbaik dalam menikmati sunset, juga tersedia air minum dingin gratis buat para tamu. Selain itu, sarapan di Aston juga sangat memuaskan.

Oya, karena liburan ini untuk merayakan Ulang Tahun Pernikahan, kami mendapat kejutan manis dari Hotel Aston Gili Trawangan.

Terima kasih Aston!

Setelah menikmati sunset di pinggir pantai, kami langsung bersepeda menuju Night Market untuk makan malam. Kami menikmati nasi rames dengan sate tuna disana. Selain seafood, juga tersedia aneka jajanan pasar dan jagung bakar.

Setelah perut terisi, kami bergegas balik ke hotel. Karena perjalanan menuju Aston, masih sepi dan gelap di beberapa titik. Tapi tenang saja, dijamin aman kok, dan beberapa kali kita berpas pas an dengan bule.

Oya, tips dari kami, selama di Gili Trawangan lebih murah bila kita pesan air mineral ketimbang es teh (tawar). Harga makanan memang lebih mahal, maklum lah secara bahan pokoknya harus diseberangkan menggunakan kapal.

Sayangnya, harga untuk penduduk lokal dan turis tidak ada perbedaan. Bahkan Cidomo pun terkesan mahal dan tidak manusiawi. Karena selama perjalanan kuda dipaksa ngebut (walaupun di jalan rusak sekalipun), untuk kejar target setoran. Padahal penumpang jauh akan lebih menikmati jika Cidomo berjalan santai.

Selasa, 24 April 2018

Setelah menyeberang kembali ke Lombok, kami pun memulai perjalanan di Mataram. Tujuan kami adalah beli oleh-oleh. Kami membeli kaos, songkok, tas dan souvenir lainnya di Toko Arief (dekat Pasar Cakranegara).

Setelah itu, kami mencari oleh oleh berupa makanan di Phoenix Food. Kami membeli minyak Sumbawa, dodol rumput laut, kacang mete dan tak lupa terasi bakar khas lombok.

Terakhir, kami mampir ke Sasaku untuk membeli kaos. Setelah itu, kami makan siang di Sate Rembiga Ibu Sinnaseh.

Sate Rembiga, Sate Pusut, Bebalungan & Beberuk

Setelah makan, kami langsung Check In di Hotel Lombok Astoria. Sayangnya kami mendapat kamar yang ACnya tidak dingin dan TV no signal. Setelah komplain berulang2, barulah kami mendapat penggantian kamar. Bahkan wifinya hilang timbul selama 2 hari menginap disana.

Kami keluar hotel untuk makan malam, pilihan kami adalah Ayam Bakar Taliwang Irama. Kami memesan Gurame Bakar Taliwang, Plecing Kangkung, dan es Kelapa Muda Kristal.

Ketika harga ikan Gurame sama dengan ikan Nila, you know what to choose. Lagian ayam kampung di Lombok kurus banget, nyaris ngga ada dagingnya

Oya, tips bila kamu makan di RM. Ayam Taliwang Irama, sepertinya harga makanan sudah termasuk air mineral gelas. Jadi kalau mau lebih hemat sih ngga usah pesen minum lagi.

Rabu, 25 April 2018

Untuk menu sarapan, Hotel Lombok Astoria cukup mengesankan. Dengan menu yang lengkap & variatif, juga ditambah pemandangan infinity pool.

Makanan di Lombok tuh rata2 pedasnya di tingkat Advance. Saya yg termasuk penggemar pedas aja ngga kuat, makanya begitu nemu pisang seneng bgt! Lumayan buat bikin ‘padat’ BAB.

Kami segera menuju ke Pantai Pink sebagai destinasi terjauh selama di Lombok. Melewati medan berupa jalan rusak yang panjang di tengah hutan, akhirnya kami sampai.

Pink Beach (yang tidak pink) masih sangat sepi & terpencil, hanya ada beberapa pengunjung lokal dan segerombolan bule sedang berjemur. Kami tidak lama disitu. Kemudian sempat singgah di Tanjung Ringgit, yang saya minta suami untuk tidak meneruskan karena medannya berbahaya.

What’s so pink about this beach?

Destinasi berikutnya adalah Pantai Kuta Mandalika, yang sudah lebih komersial dan rapi. Banyak hotel/hostel & cafe di sekitarnya. Bahkan kami sempat menikmati Pop Mie di Indomaret depan pantainya persis.

Tujuan berikutnya adalah Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese yang letaknya berdekatan.

Setelah Sunset dan hampir gelap, kami bergegas menuruni Bukit Merese. Sebelum balik ke Hotel, kami makan malam dulu di Sate Rembiga Utama Ibu Ririn.

Kamis, 26 April 2018

Hari terakhir di Lombok, karena jadwal penerbangan kami 9.50 pagi. So far sih Lombok berkesan yah, walaupun sepertinya makin tua makin takut naik pesawat. Tapi ya makin tua juga makin susah move on kalo liburan. Piye jal? 😂

Yang jelas berliburlah selagi mata kamu masih bisa melihat & kaki kamu masih kuat melangkah. Karena akan ada masanya jiwa kita bosan di rumah terus, sementara fisik sudah ngga memungkinkan.