Liburan Akhir Tahun 2018 Bag. 2 (Lampung-Bukittinggi- Palembang)

Nah, ini adalah alasan mengapa saya dan suami balik duluan ke Jakarta. Karena lagi lagi kami akan tes mobil baru Ipar dari Suami keliling Sumatera. Ya kalo tahun 2018 kakak & kakak ipar punya mobil baru, semoga 2019 giliran kita. Ada Aamiin disini?

Jadi, kalau keluarga Kakak Suami tidak ada rencana Pulang Kampung, kami berencana baru akan balik ke Jakarta setelah Tahun Baru. Kenyataannya, jam 07.30 pagi kami tiba di Terminal Pulogebang dari Malang, packing lagi dan beberes sebentar, berangkat ke rumah Ipar di Jatiasih, untuk kemudian lanjut ke Merak sehabis Jumatan menuju Bukittinggi.

Hari 1 (Jumat, 28 Des 2018)

Berhubung saat itu Gunung Krakatau dan Tsunami masih jadi isu hangat, kami berencana menyeberang kapal sebelum gelap.

Tarif Penyebrangan Ferry Merak – Bakauheni 2018

Kapal masih ramai seperti musim Liburan biasa. Sayangnya saat berangkat kami dapat kapal yang tidak terlalu bagus dan sudah tua. Ruang VIP tidak terasa dingin, sehingga kami pilih duduk di bangku biasa. Apesnya lagi, ada hiburan Dangdut yang hingar bingar tanpa keahlian suara yang mumpuni. Beberapa penyanyinya malah memaksa pengunjung lelaki untuk karaoke sekaligus nyawer. Kalau boleh usul, yang seperti ini lebih baik dihapus saja. Karena bikin penumpang lain ngga nyaman, dan banyak anak kecil yang menyaksikan.

Perjalanan cukup lancar, walau sesekali ayunan ombak kami rasakan. Sesampainya di Lampung, kami bergegas ke RM Begadang V untuk makan malam.

Ayam Goreng Talua yang tersohor

Kalo ke Lampung, suami pasti ngga bakal absen makan Ayam Goreng Telur ini. Sebenarnya ini hanya Ayam Goreng ungkep, yang sebelum digoreng dibalut kocokan telur. Tapi ada rasa jejak gurih khas yang bikin istimewa.

Hari 2 (Sabtu, 29 Des 2018)

Masih di jalan, dan sejujurnya hamba yang orang Jawa udah berasa kapok! Kaki bengkak, muka kucel, badan pliket campur aroma 7 rupa belom sampe juga. Berhubung tempat makan sedapetnya dan ngga ada yang istimewa, jadi ngga saya masukin ke Blog.

Inget ya, usahakan dalam sehari itu makan minimal satu jenis makanan mentah. It’s good for your healthy 🙂

Sempet makan di RM Palembang, dan seneng banget nemu lalapan mentah. Secara mostly makan di RM Padang yang minim sayur

Hari 3 (Minggu, 30 Des 2018)

Akhirnya kita hampir memasuki wilayah Padang, sempat singgah makan dulu di RM Gunung Medan.

Umega Group ini salah satu tempat makan pemberhentian Bus Lintas Sumatera. Ngga heran walaupun larut malam masih tetap ramai.

Akhirnya sampe juga di Kampung Suami; Desa Surau Gadang

Setelah beristirahat, kami lalu sarapan di Kedai Nasi Ni Ir, yang sudah ramai sebelum jam makan siang.

Kedai ini spesialis Talua Barendo, Telur Dadar Padang yang digoreng dalam minyak banyak dan panas, sehingga menghasilkan pinggiran telor keriting bak renda.

Penampakan Talua Barendo. Saya pribadi sih lebih suka Dadar yang tebel ginuk ginuk. Yang ini nyaris udah ngga ada telornya lagi 😦

Sempet ngintip dapurnya & liat proses pembuatan Telor Berenda

3 piring ini the bestnya. Sambal hijau pake bawang merah segar, Pepaya Jepang rebus & Jengkol Balado

Sejujurnya, cuma di Sumatera Barat saya makan Jengkol. Karena Jengkol disini tuh enak, bebas langu, dan beneran kaya makan kentang versi ‘padet’. Tapi dari semua Jengkol yang saya makan selama disini, Jengkol di Ni Ir yang terbaik.

Kemudian kami mengunjungi tempat wisata pertama, Taman Panorama & Lobang Jepang.

Harga Karcis Taman Panorama & Lobang Jepang 2018

8 atau 9 tahun lalu pertama kesini pagi banget, dan menjumpai banyak Monyet berkeliaran. Hari ini ngga satu pun yang nampak

Buat yang mau ke Taman Panorama & Lobang Jepang, Bukittinggi, periksa lebih teliti lagi ya karcisnya. Jangan mau kalau dapet karcis bekas, dan harus langsung tukar atau minta yang baru.

Setelah menjelajah Goa Jepang, kami menuju ke Ngarai Sianok.

Sempet beli Kepiting Goreng disini. Bumbunya enak!

Makan malam kami di Nasi Goreng Indah Sari, Simpang Bukik.

Walaupun rame dengan orang lokal, entah kenapa di lidah saya masakan disini agak hambar. Dan saya kurang suka tekstur Mie nya yang besar.

Hari 4 (Senin, 31 Des 2018)

Brunch hari ini Pongek Situjuah, Payakumbuh. Rumah makan yang luas dan ramai ini terkenal dengan Ikan Bakarnya.

Percayalah, ngga ada lagi Ikan Bakar dengan bumbu enak seperti ini

Disediakan Kalender gratis buat pengunjung

Sehabis makan, lalu kita menuju Kelok 9 untuk berfoto.

Setelah itu kita lanjut ke Harau. Sebenarnya saya malas mengulas soal ini, karena Harau yang sekarang menurut saya malah jadi semrawut. Dipenuhi banyak spot spot selfie yang justru merusak keindahan alamnya. Bahkan, saya sempat melihat ada penyewaan kostum Korea lengkap dengan background khas winter. Err..

Di sosmed juga banyak yang menyayangkan hal ini sih, tapi konon kabarnya lahan tsb adalah properti pribadi.

Saya amati di Sumatera Barat banyak tempat wisata baru yang menjual spot Instagramable. Mungkin eranya memang seperti ini ya, semoga tahun ini dan selanjutnya keindahan alam tetap dijaga dari polusi wisata.

Untuk makan malam, karena kehabisan Mak Syukur, kami akhirnya makan Sate Padang di Sate Biaro Nan Lamo.

Mumpung di Padang, makan keripik balado sepuasnya

Setelah istirahat sejenak di rumah, kami menghabiskan malam tahun baru di Jam Gadang.

Jam Gadang saat kami disana, masih ditutup untuk umum karena renovasi. Nantinya akan dilengkapi air mancur, lampu lampu, dan pusat aktifitas lainnya.

Memang tidak ada acara apa pun yang digelar pemerintah setempat dalam menyambut Tahun Baru. Warga hanya ramai berkumpul di area Jam Gadang. Bahkan, waralaba sekitarnya pun sudah menutup tokonya sebelum jam 12 malam.

Hari 5 (Selasa, 1 Jan 2019)

Sarapan pertama kami di 2019 adalah Pical Sikai.

Yang juara disini adalah bumbu Gado gado dan Lupisnya.

Sehabis sarapan, kita berkunjung ke Istana Pagaruyung.

Di dalamnya berisi Museum tempat peninggalan sejarah & Baju Adat yang bisa disewa

Terakhir kesini, saya hanya bisa foto foto di luar. Waktu itu, Istana Pagaruyung ditutup untuk renovasi paska terbakar disambar petir.

Makan malam kami adalah Sate Padang Saiyo, yang letaknya persis disebelah Sate Mak Syukur yang lagi lagi sudah habis.

Kuahnya light, kari-nya ngga terlalu tajam

Yang juara disini, Opak Pedas & Jangek Jumbo

Malamnya, kami sempat hunting Durian yang dijajakan memakai mobil di Pasar Bawah.

Duren Medan emang juara deh

Hari 6 (Rabu, 2 Jan 2019)

Kali ini sarapan di Ayang Pical, yang letaknya tidak jauh dari Pical Sikai sebenarnya.

Saya pribadi lebih suka Pecal Ayang, karena menunya lebih komplit. Dan Katupek Sayurnya sudah siap dari pagi. Tapi menu yang rekomen disini adalah Nasi Sup. Nasi Sup lebih mirip Sup Daging sebenernya. Kuahnya bening segar, dan isiannya pun komplit dan melimpah.

Tujuan wisata hari ini adalah Danau Maninjau. Menuju kesana melewati kelok 44 yang fenomenal itu. Alhamdulillah saya survived tanpa jackpot. Pertama kali kesini, semua orang di Bukittinggi bilang ngga ada orang yang ngga muntah kalo melewati Kelok 44. Nyatanya biasa aja tuh, malah saya sukses tidur pulas.

Cuma sebentar disini, karena tempatnya biasa aja dan sepi. Wisata berikutnya adalah Lawang Park.

Lawang Park ini saya rekomendasikan, karena pemandangannya bagus banget. Apalagi belum terpolusi sama spot selfie buatan manusia. Hasil berfoto disana dijamin backgroundnya seperti lukisan. Dan begitu tempat itu mulai ditutupi kabut, pemandangannya beneran kaya negeri di atas awan.

Sempet makan siang disini, dipilih karena sudah laper dan nemunya ini.

Setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju Padang. Mampir sebentar untuk belanja oleh oleh di Cristine Hakim.

Sempet beli Bumbu Rendang instan buatan lokal yang lumayan otentik

Lanjut untuk ngemil sore di Ganti Nan Lamo.

Iko Gantinyo seberangan sama Ganti Nan Lamo

Waktu kita tanya sama Tukang Parkir mana yang aseli, disebut Ganti Nan Lamo. Dan memang restonya lebih ramai sih.

Daftar Menu & Harga Ganti Nan Lamo 2019

Es Durian nya hadir dengan Duren yang sudah di blender lembut. Padahal lebih suka tekstur duren aslinya. Menurut saya malah lebih rekomen Pempek Palembang nya. Platingnya paling bagus dari semua Pempek yang pernah saya makan. Ikannya berasa, cukonya mantap, dan porsi besar bisa untuk 2 orang. Ponakan juga pesan Sate Padang, dan menurut dia rasanya manis.

Malamnya sempat naik ke Jembatan Siti Nurbaya yang ternyata biasa aja. Setelah itu kami kembali ke Bukittinggi.

Hari 7 (Kamis, 3 Jan 2019)

Sarapan kami dijamu oleh kerabat Suami. Sesuai tradisi, jika ada yang datang ke Kampung, semua kerabat akan mengundang makan ke rumah.

Jamuan Makan ala Lesehan

Setelah itu kami ke Pasar Atas membeli oleh oleh. Singgah juga di Kapuyuak yang menjual kaos dengan tulisan humor khas Minang.

Sungguhlah kami ngga nyesel belanja disini. Bahannya enakeun, harga juga ngga terlalu mahal. Desainnya juga macem2 dan simpel.

Malamnya kami hunting Oleh oleh lagi di Payakumbuh, yang ternyata harganya hampir 3x lipat lebih MURAH dari yang dijual di toko Oleh Oleh terkenal.

Enaknya lagi, kalau beli banyak bisa langsung dikirim via Kargo dari Toko. Saya menggunakan Kargo ‘AWR’,karena sudah langganan dan lokasinya dekat dengan tempat kerja. Untuk pengiriman ke rumah, bisa juga menggunakan Indah Cargo.

Makan siang, makan malam dan sarapan kami esok hari masih keliling di rumah Saudara Suami. Sebagai wanita Jawa saya hanya berdoa, semoga Tuan Rumah diberi kelapangan rezeki karena sudah menyediakan makanan komplit untuk banyak orang.

Hari 8 (Jumat, 4 Jan 2019)

Sarapan kami hari ini di rumah kerabat ada kejutan karena Tuan Rumah menyediakan Mie Instan disamping lauk Padang lainnya. Yang tentu saja disambut gegap gempita oleh kami yang merindukan.

Rencananya, sehabis Jumatan kami akan bertolak ke Palembang untuk bermalam sehari.

Untuk bekal di jalan, kami sudah membungkus Nasi Kapau Uni Ca.

Bungkusannya besar dan khas (DD for Dendeng Batokok)

Sampai di Palembang sore hari, dan kita langsung menuju Hotel Batiqa untuk check in.

Hotel Batiqa adalah Hotel Bintang 3 di pusat kota Palembang. Letaknya strategis, dekat dengan minimarket, sebelah persis adalah RM Padang yang buka sampai malam, sederetan dengan Pempek Candy dan resto Pempek rumahan. Walaupun tidak ada fasilitas Kolam Renang, tapi wifi cukup lancar.

Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami keluar untuk makan malam di Pindang Musi Rawas.

Srikayanya juara!

Walaupun yang terkenal Pindangnya, namun saya lebih suka Pentol Gabus dan lalapannya. Bahagia rasanya ketemu sayuran mentah segar beraneka macam, yang unik bahkan disajikan Jantung Pisang rebus dalam lalapannya.

Malamnya kami tutup dengan mengunjungi ikon Palembang.

Bahagianya warga Palembang, punya tempat berkumpul dan sarana melepas stress yang murah meriah.

Hari 10 (Sabtu, 6 Jan 2019)

Hari ini dimulai dengan brunch di Pindang Sophia setelah kemarin kehabisan.

Yang jadi rebutan disini adalah menu Lobsternya.

Banyak menu sayurannya juga disini. Untuk harga Lobster berkisar 90rb – 120rb tergantung ukuran.

Lanjut untuk mengunjungi Masjid Cheng Hoo yang menurut saya ‘girly’ karena warnanya didominasi Pink.

Setelah itu kami menjajal LRT. Kami naik dari Stasiun Bumi Sriwijaya yang lokasinya di area Palembang Ikon.

Untuk naik LRT Palembang, harus menggunakan e-money dengan tarif 5rb/trip. Tujuan kami adalah Stadion Jakabaring.

Situasi LRT saat weekend lumayan ramai oleh penduduk lokal. Di stasiun dan beberapa gerbong udaranya cukup ‘hangat’. Mungkin karena AC tidak cukup menghalau cuaca panas dari luar.

Cuaca terik juga yang membuat kita membatalkan kunjungan ke Stadion Jakabaring. Apalagi ternyata letaknya cukup jauh dari Stasiun.

Setelah kami balik lagi ke Mall Palembang Ikon tempat mobil diparkir, maka dimulailah wisata kuliner Palembang kita.

Perhentian pertama adalah Pempek Saga Sudi Mampir.

Lanjut ke Pempek Vico, yang terkenal karena Es Kacang Merah dan Cukonya yang mantap. Disini kami hanya take away Esnya dan beli oleh oleh Pempek.

Kemudian dilanjutkan makan Mie Celor.

Kami sempat membeli Pempek Dos di Pasar Ilir untuk Oleh oleh. Dan tak lupa kami mencicipi Martabak Har.

Menurut saya harga makanan di Palembang lumayan mahal. Martabak Spc Daging Har dihargai 65rb, walau memang rasanya enak banget.

Sekitar jam 23.30 kami mengarah ke Lampung untuk kemudian pulang ke Jakarta.

Hari 11 (Minggu, 7 Jan 2019)

Tiba di Lampung sekitar pukul 09.45, sebelum menyeberang kapal, kami sarapan dulu di Bakso Sony.

Menurut saya Baksonya biasa aja ya, malah cenderung kasar. Mie Ayamnya enak, tapi porsinya kecil sekali.

Demikianlah petualangan dan pengalaman wisata dan kuliner saya di Sumatera. Semoga bisa menjadi referensi anda dalam merancang perjalanan.

Advertisements

The Grief

When I lost my father. Everything’s changed. I am no longer who I am.
Its like carrying a pain in a deep soul for a life time. And there’s no way to heal it. Even small things could lead to memories about him.
When He passed away, I was shocked that death was that near. It makes me think the world is no longer that worthy.
I used to have a lot of things to be asked. So I read different prayers in my last sujood. But the only thing to read is only for my Parents, now. I couldnt ask for more. God already gives me more than I could possibly get.
Dear God, Thank YOU for this beautiful ending. Thank YOU for choosing Jumuah for him. Thank YOU for the time we spent together in his last time.
Alhamdulillah.