Trip Gili Trawangan – Lombok 2018

Hai semuaaaa..

(Masih fresh abis liburan, jadi bawaannya ceria 😂).

So, minggu kemaren, tepatnya 23 April lalu, saya & suami AKHIRNYA punya kesempatan libur 4 hari.

Biarpun ‘cuma’ 4 hari, tadinya kita juga maju mundur, jadi liburan atau tetep kerja aja. Yah, walaupun kerja sendiri kan tetep aja sayang kalau nutup.

Beginilah nasib kalau ngga ada karyawan. Fyi, tiket ke Lombok ini dulu kita beli tanpa menghitung dulu kira2 karyawan kami yg lagi cuti hamil udah balik atau belum. Murni beli pas promo buat ngerayain Anniversary kami di tgl 26 April. Dan tyt di tanggal keberangkatan kami, usia anaknya masih 4 bulan ajah 😩. Yang artinya belum bisa ditinggal dong yaa.

Tapi setelah kita pikir, nyaris kerja non stop selama 7 bulan. Apa itu weekend? Apa itu tanggal merah? Apa itu long weekend? Semuanya kita isi buat kerja. Yang lebih kasian sih suami, krn dia ngga ada libur. Sementara saya seminggu sekali ada libur, itu juga terpakai buat ajak ortu jalan & bebenah rumah. Jadi liburan ini akhirnya kita mantapkan hati buat berangkat.

Lombok, embrace yourself!

Senin, 23 April 2018

Jadwal penerbangan kami dengan Maskapai Citilink sekitar pukul 5.45 pagi keberangkatan dari Halim. Dijemput jam 3.15 oleh supir takol (taksi online) temen suami, yg kebetulan rumahnya deketan.

Oya, saya beli tiket promo Citilink ini 9 bulan sebelum keberangkatan. Nah, sebelum pergi saya sempat cek ratenya kalau2 ortu mau ikut, dan cuma beda 200rb ajah sama tiket promo kita. Tapi tyt tiket promo kami punya banyak kelebihan sih. Contohnya, bisa pilih kursi, masuk ke zona green ticket yang lewat garbarata, dan sudah termasuk makan.

Dapet kursi paling depan. Legaaa dan bonus bisa ngamatin tugas2 pramugari. Psst..saya baru tahu cara nutup pintu pesawat ya pas kmr itu hihihi

Free meal ‘Nasi Jinggo’. Biarpun minimalis & nasinya anyep

Pemandangan dari pesawat

Perjalanan cukup lancar, walau pas mau take off Jakarta diguyur gerimis.

Sampai bandara, kami sudah dijemput oleh drivernya Pak Surya. Kami sengaja sewa mobil selama di Lombok menggunakan jasa rental BSA (0878.6584.8111). Pak Surya ini saya rekomendasikan lho, soalnya ngga ribet dan helpful. Walaupun kita kehabisan mobil jenis matic, tapi ya sudahlah, paling suami perlu penyesuaian dikit nyetir mobil manual lagi.

Keluar bandara, kita langsung menuju RM. Cahaya untuk brunch Nasi Balap Puyung.

Letaknya pas di seberang bandara. Langsung kesitu, soalnya nanti pulang penerbangan pagi banget ngga bakal sempat.

Selama di Lombok, cm disini yg plecing kangkungnya pake kelapa parut. Laf!

Setelah tukar mobil (kita dijemput dengan Innova, untuk kemudian ditukar dengan mobil sewaan, Calya) dan melakukan pembayaran. Kita langsung menuju Pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Di Bangsal, kami masuk ke dalam pelabuhan untuk parkir inap, dengan biaya 30rb/hari untuk mobil.

Untuk menyeberang ke 3 Gili (Trawangan, Meno, dan Air), tersedia 3 jenis kapal. Kapal Kayu (Public Boat), Fast Boat & Private. Pelabuhan Bangsal hanya melayani Public & Fast Boat.

Jika anda pergi secara rombongan, lebih efisien jika menggunakan Private Boat, yang memiliki pelabuhan sendiri. Namun jika anda tipe petualang dan langsung menuju Gili Trawangan, bisa mencoba Kapal Kayu (Public Boat) seharga 15rb/pax. Namun harus menunggu kuota 40 orang dulu baru berangkat.

Saya dan suami memilih naik Fast Boat yang cukup nyaman. Kapal berhenti dulu di Gili Air, Meno, lalu lanjut ke Gili Trawangan.

Sampai di Gili Trawangan, hati saya langsung hangat. Selain akhirnya bisa menginjak pulau yang air lautnya bening tosca, saya merasa seolah ngga berada di Indonesia, karena lebih banyak bule bikinian berseliweran. Pokoknya langsung saya rekam video dan upload ke IG dgn caption ‘Island Lyfe’ (ciyeeeeeh).

Karena sudah jam makan siang, kami langsung menuju ke Warung Ibu Dewi yang ngga jauh dari harbour.

Ayam Taliwang & Cah Kangkung

Selama di Gili Trawangan, kami menginap di Hotel Aston, yang terletak di ujung Pulau. Namun, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju kesana ketimbang naik Cidomo. Sekalian bakar kalori dan eksplore Gili Trawangan.

Sesampai di Hotel, kami istirahat sebentar lalu langsung meminjam sepeda untuk keliling pulau. Salah satu fasilitas yang diberikan Aston adalah sepeda gratis. Hal itu sangat memudahkan kami dari segi transportasi. Aston kami rekomendasikan karena selain wifi yg kencang (bahkan masih menjangkau di tepi pantainya), Club Beachnya yang merupakan posisi terbaik dalam menikmati sunset, juga tersedia air minum dingin gratis buat para tamu. Selain itu, sarapan di Aston juga sangat memuaskan.

Oya, karena liburan ini untuk merayakan Ulang Tahun Pernikahan, kami mendapat kejutan manis dari Hotel Aston Gili Trawangan.

Terima kasih Aston!

Setelah menikmati sunset di pinggir pantai, kami langsung bersepeda menuju Night Market untuk makan malam. Kami menikmati nasi rames dengan sate tuna disana. Selain seafood, juga tersedia aneka jajanan pasar dan jagung bakar.

Setelah perut terisi, kami bergegas balik ke hotel. Karena perjalanan menuju Aston, masih sepi dan gelap di beberapa titik. Tapi tenang saja, dijamin aman kok, dan beberapa kali kita berpas pas an dengan bule.

Oya, tips dari kami, selama di Gili Trawangan lebih murah bila kita pesan air mineral ketimbang es teh (tawar). Harga makanan memang lebih mahal, maklum lah secara bahan pokoknya harus diseberangkan menggunakan kapal.

Sayangnya, harga untuk penduduk lokal dan turis tidak ada perbedaan. Bahkan Cidomo pun terkesan mahal dan tidak manusiawi. Karena selama perjalanan kuda dipaksa ngebut (walaupun di jalan rusak sekalipun), untuk kejar target setoran. Padahal penumpang jauh akan lebih menikmati jika Cidomo berjalan santai.

Selasa, 24 April 2018

Setelah menyeberang kembali ke Lombok, kami pun memulai perjalanan di Mataram. Tujuan kami adalah beli oleh-oleh. Kami membeli kaos, songkok, tas dan souvenir lainnya di Toko Arief (dekat Pasar Cakranegara).

Setelah itu, kami mencari oleh oleh berupa makanan di Phoenix Food. Kami membeli minyak Sumbawa, dodol rumput laut, kacang mete dan tak lupa terasi bakar khas lombok.

Terakhir, kami mampir ke Sasaku untuk membeli kaos. Setelah itu, kami makan siang di Sate Rembiga Ibu Sinnaseh.

Sate Rembiga, Sate Pusut, Bebalungan & Beberuk

Setelah makan, kami langsung Check In di Hotel Lombok Astoria. Sayangnya kami mendapat kamar yang ACnya tidak dingin dan TV no signal. Setelah komplain berulang2, barulah kami mendapat penggantian kamar. Bahkan wifinya hilang timbul selama 2 hari menginap disana.

Kami keluar hotel untuk makan malam, pilihan kami adalah Ayam Bakar Taliwang Irama. Kami memesan Gurame Bakar Taliwang, Plecing Kangkung, dan es Kelapa Muda Kristal.

Ketika harga ikan Gurame sama dengan ikan Nila, you know what to choose. Lagian ayam kampung di Lombok kurus banget, nyaris ngga ada dagingnya

Oya, tips bila kamu makan di RM. Ayam Taliwang Irama, sepertinya harga makanan sudah termasuk air mineral gelas. Jadi kalau mau lebih hemat sih ngga usah pesen minum lagi.

Rabu, 25 April 2018

Untuk menu sarapan, Hotel Lombok Astoria cukup mengesankan. Dengan menu yang lengkap & variatif, juga ditambah pemandangan infinity pool.

Makanan di Lombok tuh rata2 pedasnya di tingkat Advance. Saya yg termasuk penggemar pedas aja ngga kuat, makanya begitu nemu pisang seneng bgt! Lumayan buat bikin ‘padat’ BAB.

Kami segera menuju ke Pantai Pink sebagai destinasi terjauh selama di Lombok. Melewati medan berupa jalan rusak yang panjang di tengah hutan, akhirnya kami sampai.

Pink Beach (yang tidak pink) masih sangat sepi & terpencil, hanya ada beberapa pengunjung lokal dan segerombolan bule sedang berjemur. Kami tidak lama disitu. Kemudian sempat singgah di Tanjung Ringgit, yang saya minta suami untuk tidak meneruskan karena medannya berbahaya.

What’s so pink about this beach?

Destinasi berikutnya adalah Pantai Kuta Mandalika, yang sudah lebih komersial dan rapi. Banyak hotel/hostel & cafe di sekitarnya. Bahkan kami sempat menikmati Pop Mie di Indomaret depan pantainya persis.

Tujuan berikutnya adalah Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese yang letaknya berdekatan.

Setelah Sunset dan hampir gelap, kami bergegas menuruni Bukit Merese. Sebelum balik ke Hotel, kami makan malam dulu di Sate Rembiga Utama Ibu Ririn.

Kamis, 26 April 2018

Hari terakhir di Lombok, karena jadwal penerbangan kami 9.50 pagi. So far sih Lombok berkesan yah, walaupun sepertinya makin tua makin takut naik pesawat. Tapi ya makin tua juga makin susah move on kalo liburan. Piye jal? 😂

Yang jelas berliburlah selagi mata kamu masih bisa melihat & kaki kamu masih kuat melangkah. Karena akan ada masanya jiwa kita bosan di rumah terus, sementara fisik sudah ngga memungkinkan.

Advertisements